Testimoni Sedekah

Mbak Trully - Mbak Trully: Umroh Sekeluarga Bermodal Nekad

  1,074


Koper, seragam, dan pernak-pernik perlengkapan ke Baitullah sudah terbilang. Namun, galau Mbak Trully tak kunjung hilang. Bukan, bukan karena ia grogi hendak menunaikan ibadah umroh pertama kali. Melainkan lantaran sisa biaya umroh sekeluarga belum terlunasi.


Maka, deg! jantung Mbak Trully berdegup lebih kencang saat ditelpon petugas dari biro umroh tempatnya mendaftar. ‘’Silakan dilunasi Ibu biaya umrohnya, dua minggu lagi kita berangkat,’’ suara ramah Ustaz pembimbing umroh di ujung telepon, terasa menakutkan bagi Mbak Trully.

‘’Iya, insya Allah Ustaz, doain ya,’’ jawabnya dengan nada suara bergetar. Mengekpresikan suara hati yang membuncahkan keyakinan berbalut kegalauan. 

Program umroh sekeluarga ini memang lebih bermodalkan keyakinan. Nekad, istilahnya.
Bermula dari keinginan perempuan tiga anak bernama lengkap Trully Noor Fahmi Sukmawati ini untuk umroh bersama sekeluarga.

Sang suami, Eddy Waluyo, sempat mengingatkan semangat Sukmawati yang dinilai ‘’kurang realistis’’. Hitung saja. Biaya umroh 5 orang minimal Rp 125 juta. Belum termasuk uang saku dan lain-lain. Sementara, gaji suami perbulan dan tabungan masih jauh dari angka tersebut.

Tapi, Mbak Trully yang sudah sejak tahun 2009 menyimak dakwah Ustaz Yusuf Mansur, bergeming dengan asanya. ‘’Biaya umroh segede apapun menurut kita, itu kecil saja menurut Allah. Dia Yang Maha Kaya, jika sudah menakdirkan kita berangkat, ya berangkat!’’ Begitu keyakinan ibu dari Muhammad Raffael Fairuz Waluyo (16), Alyaa Nata Cherry Waluyo (13), dan Azriel Shabrina Djenar Waluyo (11).

Seperti perkiraan sang suami, umumnya biro umroh yang mereka datangi, tak bersedia menerima pendaftaran. Maklum, uang muka dan besaran gaji Eddy Waluyo dinilai kurang mencukupi untuk mendapat fasilitas dana talangan umroh.

Namun alhamdulillah, setelah ditolak oleh 6 biro perjalanan umroh pertama, akhirnya ada juga yang memberi harapan. Suami-istri ini ditemui H Arkani dari perusahaan jasa umroh yang mendukung keinginan mereka untuk umroh sekeluarga.

“Jadi, Ibu mau ikut paket umroh yang harga berapa?” tantang Ustaz Arkani pada akhirnya.

‘’Kami ingin berangkat dengan paket yang paling bagus, Ustaz,’’ ujar Mbak Trully dengan spontan dan meyakinkan.

Jawaban ini sungguh membuat Eddy Waluyo dan anak-anak terperanjat.  Bagaimana tidak, karena waktu itu, tahun 2012, uang tabungan keluarga tak lebih dari Rp 10 juta.

Dalam perjalanan pulang, Ny Trully mengemukakan alasan kenekadannya itu. 
“Kita mau belanja urusan duniawi saja pasti pilih yang bagus-bagus, masak mau berangkat umroh dan hadir ke rumah Allah memakai cara yang biasa-biasa saja. Untuk Allah kita berikan yang terbaik dari kita, insyaallah, Allah akan memudahkan,’’ tuturnya sambil mengutip kalimat kemahakuasaan Allah SWT: Kun fayakun!

Hari demi hari berlalu, hingga tak terasa berjalan hampir setengah tahun. Sisa biaya umroh belum jua terlunasi, hingga Mbak Trully diingatkan untuk segera menunaikan.

Setelah menerima telepon tagihan itu, Mbak Trully mengajak anak-anaknya untuk lebih kencang melaksanakan riyadhoh. Sholat tahajjud, dhuha, berdzikir, berdoa... siang-malam.

Waktu pelunasan tinggal sepekan, jawaban doa yang diidamkan belum juga terasakan. Wanita asal Surabaya yang sekeluarga bermukim di Kalimantan Tengah sejak 2001, ini semakin deg-degan. Terlebih ketika ditelepon Ustaz Arkani untuk merampungkan cicilan.

‘’Iya Ustaz, insya Allah segera kami lunasi,’’ jawab mantap Mbak Trully, walaupun sambil dag-dig-dug. Terlebih saat itu ia tengah ditinggal suaminya sepekan berdinas di luar kota.

Dalam masa sepekan penantian, tiba-tiba sang suami berkabar gembira dari Jakarta. Ternyata, ia diundang ke Ibukota untuk menerima penghargaan prestasi. Tak cuma berupa piagam, pernghargaan yang diterima juga berbentuk bonus fresh money yang nilainya hampir sebesar sisa biaya umroh sekeluarga.

Akhirnya, dengan tinggal menambah sedikit, kesampaian jugalah mimpi umroh sekeluarga Mbak Trully.

‘’Alhamdulillah kami sekeluarga umroh pada 2012. Meskipun uang saku juga pas-pasan, namun Subhanallah banyak keajaiban yang kami rasakan di Tanah Suci. Uang saku kami sepertinya tidak habis-habis, sehingga mampu membeli oleh-oleh untuk tetangga dan sanak keluarga di Indonesia,’’ tutur Mbak Trully dengan haru kepada Nahar Zainuddin dari PPPA Daarul Quran Surabaya yang menemuinya beberapa waktu lalu.

Sepulang dari Tanah Suci, keyakinan Mbak Trully akan keajaiban sedekah dan riyadhoh semakin mantap. Selain bersedekah sekeluarga, ia juga menjadi simpul sedekah bagi teman-temannya.

Banyak lagi hal-hal amazing yang dia dapatkan, seperti jabatan yang lebih baik bagi suaminya di tempat kerja baru di Ketapang, Kalimantan Barat. Juga kemudahan bagi anak-anaknya untuk nyantri di Daarul Qur’an Tangerang. Bahkan Cherry, putri mereka, mendapat beasiswa studi ke Kairo, Mesir, sejak 2014 atas sponsor Daarul Qur’an.

Sebagai bagian dari rasa syukurnya, saat mudik ke Jawa Timur pada 8 Oktober lalu Mbak Trully menyedekahkan rumahnya di Sidoarjo. Kediaman ini selanjutnya akan dikelola PPPA Daarul Qur’an sebagai Rumah Tahfizh.

‘’Insya Allah Rumah Tahfizh ini akan membuat rejeki Mbak Trully sekeluarga semakin barokah,’’ kata Koordinator Rumah Tahfizh Center Surabaya, Ustaz Alvaroby Al Hafizh, usai menerima rumah tersebut.




Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni