Perbedaan Bank Sentral dan Bank Umum

Lembaga perbankan kian tak terpisahkan dalam keseharian manusia selama beberapa dekade terakhir. Tempat orang-orang bertransaksi di berbagai negara dari seluruh dunia. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata ada perbedaan bank sentral dan bank umum yang cukup menonjol?

Sebelum itu, perlu dipahami bersama bahwa bank merujuk pada usaha di bidang finansial yang mengumpulkan dana milik masyarakat sebagai tabungan, serta menyalurkannya lagi dalam bentuk pinjaman atau semisalnya.

Di Indonesia sendiri, ada beberapa jenis lembaga perbankan. Tetapi, bank sentral dan bank umum agaknya lebih menarik untuk ditelisik lebih jauh.

Begini Perbedaan Bank Sentral dan Bank Umum

1. Dilihat dari jenisnya

Bank sentral memiliki pengertian sebagai lembaga keuangan independent, di mana keberadaannya tidak terikat dengan lembaga lainnya atau berdiri sendiri. Di sisi lain, bank umum melibatkan cukup banyak pihak dalam kegiatan operasionalnya antara lain bank milik pemerintah daerah, bank asing, bank swasta berskala nasional, hingga bank milik pemerintah pusat.

Beberapa contoh bank milik pemerintah pusat atau yang berada di bawah kendali BUMN yaitu Bank Mandiri, Bank rakyat Indonesia (BRI), Bank Tabungan Negara (BTN), serta Bank Negara Indonesia (BNI). Adapun contoh bank milik pemerintah daerah seperti Bank Jatim, Bank BJB, dan lain sebagainya. Bank jenis ini harus bersinergi dengan pemerintah dalam operasionalnya.

Editor terkait:

2. Dilihat berdasarkan kepemilikan hak monopoli

Jika pada bank sentral Anda akan menemukan fungsi dari hak monopoli dan hak oktroi untuk memproduksi alat pembayaran yang sah berupa uang, maka tidak demikian realitas di bank umum. Bank umum tidak punya hak monopoli dan hak oktroi sehingga tidak dapat memproduksi uang sendiri.

Alat pembayaran yang selama ini kita gunakan semuanya bersumber dari bank sentral. Bank sentral merupakan lembaga keuangan yang bertanggung jawab atas kendali penyebaran uang di tengah masyarakat. Sementara itu, bank umum hanya menjadi fasilitas masyarakat untuk mengelola keuangannya, baik dalam bentuk simpanan, pinjaman, ataupun layanan yang lain.

3. Dilihat berdasarkan kegiatan pemberian pinjaman

Perbedaan bank sentral dan bank umum juga terlihat dari wewenang pemberian kredit atau pinjaman. Jika bank umum memberikan fasilitas kredit kepada khalayak umum, baik WNI maupun WNA, maka berbeda halnya dengan bank sentral.

Bank sentral ternyata tidak memberikan fasilitas pinjaman kepada masyarakat umum, melainkan justru kepada bank-bank lain serta untuk pendanaan negara Indonesia itu sendiri. Ini merupakan perbedaan paling mendasar, di mana bank umum bisa dikatakan sebagai perantara antara bank sentral dan masyarakat.

Dengan kata lain, target pelayanan bank sentral berorientasi pada kepentingan negara tempat berdirinya, sedangkan bank umum fokus melayani masyarakat dan bidang usaha. Maka dari itu, jika membutuhkan pinjaman atau ingin menabung, masyarakat atau badan usaha akan mendatangi bank-bank seperti BNI, BRI, atau Mandiri selaku bank umum untuk memperoleh fasilitas tersebut.

Editor terkait:

4. Dilihat melalui operasi himpunan dana

Dana yang disetorkan oleh masyarakat selama ini dihimpun dan dikelola oleh bank umum. Hal ini karena bank sentral memang tidak dibangun untuk melakukan fungsi tersebut, melainkan berperan jadi pengawas perputaran uang di sebuah negara. Kalaupun ada yang meminjam atau mengajukan permohonan kredit kepada bank sentral, maka bisa dipastikan itu adalah negara atau bank umum.

Mengenali perbedaan bank sentral dan bank umum semacam ini akan memudahkan Anda untuk berurusan. Meski tidak bergelut di bidang perbankan, masyarakat awam pun perlu kiranya memiliki sedikit banyak wawasan tentang lembaga keuangan, sekaligus mengedukasi diri sendiri.


Temukan lebih banyak konten terkait dengan Pengetahuan Umum atau konten menarik lain di PPPA

Tinggalkan komentar