Mengapa Rakyat Bali Mengadakan Perang Puputan Margarana

Indonesia mendapatkan kemerdekaan di tahun 1945 silam, tepatnya tanggal 17 Agustus. Akan tetapi setelah Indonesia merdeka, masih ada serangan dari Belanda yang mengatasnamakan dirinya dengan sebutan Nederlandsch Indie Cicile Administratie.

Belanda berusaha untuk menguasai Indonesia kembali dengan cara menunggangi sekutu. Bali termasuk daerah yang ingin diduduki oleh Belanda. Namun karena Indonesia telah merdeka, maka terjadi perlawanan terhadap sekutu di Bali.

Penyebab Terjadinya Perang Puputan Margarana yang Diadakan oleh Rakyat Bali

1. Kedatangan Belanda setelah Indonesia merdeka

Rakyat Bali merasa geram karena Belanda masih saja datang untuk menjajah daerahnya. Padahal sudah sangat jelas bahwa Indonesia telah menyatakan kemerdekaan di tanggal 17 Agustus 1945. Di tahun yang sama, Belanda datang kembali ke Indonesia dengan tujuan ingin menguasai Indonesia kembali. Jelas saja rakyat Bali marah dan melakukan perlawanan besar-besaran terhadap sekutu dan akhirnya Belanda bisa diusir dari Bali.

2. Belanda tidak mengakui Bali sebagai salah satu bagian dari Indonesia

Indonesia seharusnya meliputi seluruh wilayah dari Sabang hingga Merauke. Akan tetapi, Belanda berselisih paham dan hanya mengakui Jawa, Madura, dan Sumatera saja yang dianggap sebagai bagian dari Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh Belanda melalui sebuah perjanjian yang dinamakan Perjanjian Linggarjati. Warga Bali marah karena daerahnya tidak dianggap dalam bagian dari Indonesia oleh pihak Belanda.

3. Adanya pemberlakuan monopoli dagang

Pada waktu itu pihak Belanda ingin menaklukkan wilayah Bali dalam sektor ekonomi dengan memberlakukan sebuah sistem dinamakan monopoli dagang. Seluruh aktivitas terkait perdagangan dimonopoli pihak Belanda sehingga membuat rakyat Bali menjadi hidup sengsara. Sistem tersebut dilakukan secara sepihak oleh pihak Belanda dan banyak membuat rakyat Bali menjadi korbannya.

4. Penolakan terhadap I Gusti Ngurah Rai

Pihak Belanda memiliki rencana untuk mendirikan Negara Indonesia Timur atau NIT dan memasukkan Bali dalam perencanaan tersebut. Dalam waktu yang bersamaan, I Gusti Ngurah Rai pada saat itu merupakan letnan kolonel dan menjabat sebagai Kepala Divisi Sunda Kecil. Belanda sangat gencar melakukan perencanaan tersebut dengan kiriman pasukan ke Bali berjumlah 2000 orang. Akan tetapi terjadilah perang karena I Gusti Ngurah Rai melawan.

5. Belanda melakukan sebuah inovasi

Belanda melakukan inovasi berupa monopoli dagang dan juga melakukan pengepungan di berbagai pelabuhan menggunakan kapal. Hampir seluruh pulau kecil yang ada di Bali dikuasai oleh Belanda dengan kapal-kapal yang mengepungnya. Bali termasuk salah satu pulau yang dikepung oleh kapal Belanda. Karena itulah rakyat Bali melakukan perlawanan karena tidak menyetujui inovasi tersebut sehingga terjadilah peperangan.

6. Rakyat Bali merasa tidak terima atas perlakuan Belanda

Perang Puputan Margarana memiliki makna perlawanan yang dilakukan oleh rakyat Bali terhadap pihak Belanda hingga titik darah penghabisan. Peperangan ini menjadi bukti bahwa rakyat Bali benar-benar marah terhadap Belanda sehingga mereka melakukan perlawanan dengan sangat kuat karena didasari keinginan besar supaya Belanda kalah dan terusir dari daerah Bali sehingga disebut sebagai peperangan berdarah.

7. Belanda bersikukuh ingin menguasai Bali

Sebenarnya peperangan di Bali sudah terjadi sejak tahun 1946, tepatnya di Bulan Mei. Peperangan terjadi karena Belanda selalu mencoba untuk menghalangi pergerakan pasukan dari letnan kolonel I Gusti Ngurah Rai yang mana pada saat itu sedang berusaha untuk mengalihkan pihak Belanda ke wilayah Bali bagian timur supaya bantuan pasukan yang dikirim dari Jawa tidak dapat dideteksi oleh pihak Belanda.

Temukan lebih banyak konten terkait dengan Pendidikan atau konten menarik lain di PPPA

facebook
Twitter
Follow

Tinggalkan komentar