Mengapa Kita Harus Memiliki Sifat Sabar

Implementasi sabar dalam Islam sebenarnya terbagi ke dalam dua hal, yakni terhadap apa-apa yang dilarang oleh Allah, serta tatkala menghadapi ujian hidup. Alasan mengapa kita harus memiliki sifat sabar erat kaitannya dengan bukti keimanan.

Sabar terhadap larangan agama merujuk pada upaya menahan diri dari maksiat. Allah menciptakan manusia sepaket dengan kebaikan dan keburukan, di mana keduanya bisa diputuskan berdasarkan pertimbangan akal.

Bagaimanapun juga, ada banyak keuntungan bagi orang-orang yang bersabar. Disegani ketika di dunia, diberi ganjaran pahala, bahkan dijanjikan surga oleh Allah.

Alasan Mengapa Kita Harus Memiliki Sifat Sabar

1. Membantu Mengenal Konsep Qada Qadar

Sifat sabar erat kaitannya dengan rukun iman keenam, yakni percaya pada qada dan qadar. Qada merujuk pada takdir yang bersifat khusus, di mana setiap manusia memiliki kondisi berbeda-beda. Sementara itu, qadar menjelaskan tentang takdir yang berlaku universal untuk setiap manusia, di mana pun dan kapan pun.

Qadar sering kali juga disebut sebagai fitrah atau potensi default manusia yang meliputi naluri, akal, serta kebutuhan jasmani. Terlepas dari status sosial, gender, domisili, dan lain sebagainya, setiap kita pasti butuh makan, inilah salah satu contoh manifestasi kebutuhan jasmani.

Di lain pihak, naluri dapat diklasifikasikan lagi menjadi tiga bagian, yaitu melestarikan jenis, mengagungkan sesuatu, serta mempertahankan diri. Melestarikan jenis biasanya tercermin pada perasaan menyayangi orang tua, mengagungkan sesuatu direpresentasikan oleh sifat menghamba, serta mempertahankan diri terimplementasi dalam keinginan untuk senantiasa eksis.

Editor terkait:

2. Menyempurnakan Fungsi Akal

Dari zaman praaksara sampai sekarang, masalah manusia tidak pernah terlepas dari apa-apa yang timbul karena adanya fitrah naluri maupun kebutuhan jasmani. Untuk itu, Allah melengkapi kita dengan keutamaan akal, di mana manusia diberikan kehendak bebas.

Sebagai contoh, ada orang yang memilih asal makan saat lapar tanpa memperhatikan aspek halal dan tayib, sebagian lainnya sangat berhati-hati ketika menentukan menu. Misalnya lagi, sebagian memilih pacaran ketika jatuh cinta, di lain pihak ada pula yang langsung ijab kabul. Seluruh perbedaan ini sejatinya ditentukan berdasarkan pertimbangan akal.

Maka, di sinilah hadir alasan mengapa kita harus memiliki sifat sabar. Menahan diri dari bermaksiat, serta menerima segala takdir yang ditetapkan atas diri kita. Dalam hal ini, takdir khusus atau qada terbagi lagi menjadi dua, yakni area yang dikuasai manusia dan area yang menguasai manusia.

Pada qada yang dikuasai manusia, pilihan kita sekaligus bertransformasi menjadi takdir. Sementara untuk qada yang menguasai manusia, apa pun yang kita lakukan, hasilnya sering kali berada di luar prediksi. Atas segala sesuatu di ranah pilihan, maka Allah hadirkan hisab atau konsekuensi dosa dan pahala sebagai ganjarannya.

Editor terkait:

3. Bentuk Implementasi Syariat

Saat Allah menciptakan manusia dengan segala qada dan qadar yang melekat padanya, itu hadir satu paket bersama syariat, dan bahkan teladan terbaik. Di setiap zaman, akan selalu ada yang dikenal sebagai nabi dan rasul, tidak terkecuali pada masa ini.

Kita hidup di zaman ketika Islam telah disempurnakan dan Muhammad telah wafat, maka sesuai firman Allah, pedoman kita merujuk pada ajaran yang dibawa oleh rasul terakhir. Dengan kata lain, ketika memutuskan untuk bersabar, sejatinya kita sedang dalam tahap menerapkan syariat.

Ada banyak hikmah berkenaan dengan mengapa kita harus memiliki sifat sabar. Namun yang paling utama, yaitu bentuk pengabdian sebagai hamba Allah, sekaligus umat Nabi Muhammad. Imanlah yang membuat kita mau susah payah menahan diri dari maksiat, serta menerima segala takdir hidup ini.


Temukan lebih banyak konten terkait dengan Pengetahuan Umum atau konten menarik lain di PPPA

Tinggalkan komentar