Mengapa Kita Harus Ikhlas dalam Melakukan Amal Kebaikan

Ikhlas biasanya hadir dalam hati manusia ketika kita mampu merasakan adanya hubungan erat dengan Allah. Dalam hal ini, jika berbicara mengenai alasan mengapa kita harus ikhlas dalam melakukan amal kebaikan akan sangat erat kaitannya dengan keimanan.

Betapa tidak, iman artinya meyakini eksistensi Allah dan apa-apa yang telah dikabarkan oleh-Nya. Dari keyakinan itulah nantinya muncul kesadaran dalam diri untuk senantiasa mengingat Sang Pencipta.

Lebih lanjut, jika kesadaran kita selalu terjaga, maka ikhlas bukanlah sesuatu yang teramat sulit. Namun tentu saja, butuh usaha untuk terus mempertahankan kondisi hati sendiri.

Alasan Mengapa Kita Harus Ikhlas dalam Melakukan Amal Kebaikan

1. Representasi Keimanan Kepada Sang Pencipta

Sejalan dengan adanya keimanan kepada Allah, kita dituntut untuk selalu ikhlas dalam setiap perbuatan, khususnya kebaikan. Menyoal perihal tersebut, maka tidak heran jika ada sebagian orang yang menganggap bahwa ikhlas adalah pekerjaan seumur hidup.

Bagaimana tidak? Jika keimanan kita saja acap kali naik turun seperti gelombang, maka demikian pun kondisi keikhlasan. Segala sesuatu yang berkaitan dengan hati atau perasaan pada dasarnya memang mudah berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi.

Untuk itu, perlu usaha khusus agar hati tetap berada dalam keikhlasan, entah terhadap apa-apa yang menimpa manusia maupun perbuatan kita sendiri. Konsekuensi lanjut dari rasa ikhlas adalah munculnya ketenangan batin karena menyadari hidup kita berada di bawah pengawasan Allah.

Editor terkait:

2. Syarat Diterimanya Ibadah

Islam telah mengatur bagaimana agar setiap perbuatan kita dapat bernilai ibadah, yang artinya menerima hadiah berupa pahala. Poin paling utama, yakni terletak pada keikhlasan, di samping harus sejalan dengan syariat atau tuntunan Rasulullah.

Itulah kenapa, orang-orang yang tidak mengimani Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah, perbuatannya tidak bernilai apa-apa. Logika sederhananya, jika menyadari adanya keterikatan langsung mengenai hubungan diri dengan Allah mereka lalai, lantas bagaimana bisa keikhlasan itu muncul?

Hal tersebut sekaligus menjadi alasan kuat mengapa kita harus ikhlas dalam melakukan amal kebaikan. Pasalnya, setiap perbuatan kita akan diminati dihisab di sisi Allah. Itu berarti, sia-sia saja jika tidak dilandasi oleh perasaan ikhlas semata-mata karena-Nya. Mungkin di dunia tetap bernilai kebaikan di mata manusia, tetapi tidak akan berbuah pahala sebagaimana mestinya.

Namun demikian, ikhlas saja tentunya tidak cukup. Perkara selanjutnya erat hubungannya dengan kesesuaian ajaran Nabi Muhammad, pembawa risalah terakhir. Sederhananya, bagi seorang muslim, saat menentukan perkara benar atau salah semua hendaknya dikembalikan kepada bagaimana syariat mengatur.

Jangan sampai, kita menggunakan pemikiran-pemikiran di luar Islam untuk mengukur, apakah sesuatu itu dikatakan benar atau salah, baik atau buruk. Jika demikian, barangkali amalan kita kehilangan potensi pahala, meski tidak serta-merta membuat seseorang berdosa.

Editor terkait:

3. Mengikuti Jejak Nabi dan Rasul

Di setiap zaman, Allah selalu turunkan nabi dan rasul untuk menyeru manusia kepada berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Bagi kita yang hidup di masa modern ini, rujukannya kembali kepada Muhammad sebagai teladan terakhir.

Para nabi dan rasul tersebut, ketika berjuang menyerukan tauhid, mereka dicaci dan dimaki, tetapi di hatinya selalu tertanam keikhlasan. Seyogianya, kita pun sebagai umatnya juga demikian, ikhlas saat menghadapi berbagai kondisi, termasuk tapi tidak terbatas pada amalan kebaikan. Memang ada banyak alasan mengapa kita harus ikhlas dalam melakukan amal kebaikan, tetapi yang paling utama, adalah bentuk upaya kita mengikuti jejak para nabi dan rasul.


Temukan lebih banyak konten terkait dengan Pengetahuan Umum atau konten menarik lain di PPPA

Tinggalkan komentar