Mengapa Indonesia Keluar dari Keanggotaan OPEC

Organization of Petroleum Exporting Countries atau disingkat OPEC adalah sebuah organisasi yang dibentuk oleh pemerintah dimana di dalamnya berisikan berbagai negara sebagai eksportir minyak.

OPEC pertama kali didirikan di Bagdad, Iraq di tahun 1960 dengan lima negara sebagai anggota pendirinya yakni Saudi Arabia, Kuwait, Venezuela, Iraq dan Iran.

Indonesia sendiri tergabung dalam OPEC di tahun 1962 namun memutuskan untuk berhenti sebagai anggota di tahun 2009 dan 2016.

Alasan Keluarnya Indonesia dari Keanggotaan OPEC

1. Adanya pemangkasan terhadap hasil produksi minyak

Dalam sebuah pertemuan yang berlangsung di Wina, Austria, ada sebuah keputusan baru dimana hasil produksi minyak bumi yang dimiliki suatu negara anggota OPEC harus dilakukan pemangkasan sebesar 5%. Padahal, Indonesia sendiri mengalami penurunan hasil produksi minyak tiap tahunnya. Pemangkasan terhadap hasil produksi minyak tersebut menyebabkan harga BBM di Indonesia menjadi naik sehingga Indonesia memilih untuk keluar dari OPEC.

2. Indonesia bukan lagi negara eksportir minyak

Dahulu Indonesia tergabung dalam OPEC karena termasuk salah satu negara eksportir sumber daya alam berupa minyak yang melimpah. Dua daerah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia adalah Pangkalan Brandan dan Riau. Akan tetapi, semakin bertambah jaman, hasil minyak bumi dari negara Indonesia semakin berkurang. Sehingga status Indonesia bukan lagi menjadi negara eksportir minyak bumi, melainkan berganti menjadi negara importir.

3. Kebutuhan minyak bumi dalam negeri semakin tinggi

Tidak bisa dipungkiri bahwa BBM menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia dalam kesehariannya. Indonesia sendiri termasuk salah satu negara dengan jumlah pengguna kendaraan terbanyak di kawasan Asia. Oleh sebab itu, tingginya permintaan BBM karena jumlah pengguna kendaraan yang semakin bertambah setiap watu tidak bisa seimbang jika Indonesia masih tergabung dalam anggota OPEC.

4. Mengalami krisis ekonomi di tahun 2008

Saat status Indonesia masih merupakan anggota OPEC, Indonesia harus membayar iuran dengan jumlah USD2 juta setiap tahunnya. Angka tersebut terbilang cukup besar padahal pada tahun 2008 Indonesia sedang mengalami ancaman krisis terkait ekonomi karena muaranya ada di Amerika Serikat. Hal tersebut membuat Indonesia tidak sanggup untuk memenuhi ketentuan iuran karena hasil produksi minyak bumi di Indonesia saat itu sedang menurun.

5. Hasil produksi minyak bumi semakin surut dari waktu ke waktu

Indonesia yang dulunya mempunyai hasil produksi minyak bumi dalam jumlah besar hingga mencapai 1,6 juta barrel setiap harinya, semakin hasil produksi minyak bumi di Indonesia semakin surut, yakni di bawah 1 juta barrel setiap harinya. Karena itulah Indonesia memutuskan untuk keluar dari OPEC sehingga tidak akan memberatkan dalam hal ekonomi.

6. Sebagai upaya perbaikan struktur APBN

Indonesia keluar dari APBN pada tahun 2018 karena melihat adanya ketidaksesuaian dengan struktur APBN Indonesia di tahun 2017. Indonesia melihat ketidaksesuaian tersebut dari kebijakan baru bahwa minyak mentah yang diproduksi di luar kondensat akan dipotong sebesar 1,2 juta barrel setiap harinya. Kebijakan tersebut dianggap tidak sesuai dengan kondisi APBN negara Indonesia.

7. Meningkatkan pemasukan untuk APBN

Keluar dari keanggotaan OPEC dianggap sebagai keputusan terbaik karena jika Indonesia tetap menjadi anggota OPEC sementara hasil produksi minyak harus dipotong kurang lebih 5%, maka akan sangat kurang untuk memenuhi pemasukan negara dalam APBN. Padahal, kebutuhan negara termasuk dalam meningkatkan hasil produksi minyak bumi.


Temukan lebih banyak konten terkait dengan Pendidikan atau konten menarik lain di PPPA

facebook
Twitter
Follow

Tinggalkan komentar