Arsip Berita | April 2017
Menata Dakwah Generasi Muda

  12 April 2017    1,662

Berdirinya Pesantren Tahfidz Daarul Qur'an Takhassus berawal dari cita-cita PPPA Daarul Qur’an memiliki wadah pembelajaran yang lebih fokus menciptakan generasi muda penghafal Qur’an, sekaligus mengakomodir santri-santri dhuafa. Terbentuknya Takhassus juga dilandasi atas keinginan PPPA memfasilitasi donatur yang secara finansial kurang mampu, tapi punya semangat bersedekah.

Pesantren Takhassus pertama didirikan di Cinagara, Sukabumi pada Agustus 2015 lalu, ustadz Solehudin bersama tim merancang system pembelajaran Takhasus agar mejadi pesantren yang berkualitas bagi anak-nak kurang mampu. Ustadz Soleh sapaan akrabnya, mengingat saat timnya berencana membangun pesantren full beasiswa itu. Ia bersyukur bisa menikmati proses berdirinya pesantren yang saat ini telah menjalar di lima kota.

“Alhamdulillah, selain Cinagara, kini Pesantren Takhassus sudah berdiri di Cikarang, Cimanggis, Kemang dan Ciledug” ungkap ustadz Soleh. ‎

"Waktu itu teman-teman benar-benar berjuang sekali merancang, memikirkan dan menyiapkan. Hanya ada 15 orang tim internal. Kami bincang tentang pergerakan dakwah PPPA Daarul Qur'an. Salah satunya dengan menetapkan kurikulum Pesantren Takhassus," tuturnya, mengenang.

Takhasus merupakan salah satu upaya nyata PPPA Daarul Qur'an untuk membangun Indonesia dengan Alqur'an. Kini, sudah 107 santri tingkat SMP dan 80 santri tingkat SMA yang tengah menimba ilmu, menghafal Qur'an dan dilatih untuk jadi seorang pendakwah.‎ Para santri dibina oleh 23 pengasuh yang tersebar di lima Pesantren Takhassus.

Target besar PPPA Daarul Qur'an kata Ustadz Soleh, adalah mendirikan Takhasus di setiap provinsi. "Ke depan Takhassus minimal ada satu di setiap provinsi. Ini kan buat dhuafa ya, jadi jangan sampai orang dari Papua harus ke Jakarta. Karena secara trasportasi juga mahal. Jadi minimal di setiap provinsi ada," tuturnya.

Kini santri Pesantren Takhassus sudah berasal dari berbagai daerah di Indonesia, salah satunya Danu Yusuf (13), bocah asal Palembang ini amat bersyukur mendapat beasiswa full di Pesantren Takhassus Kemang. Sebab, ayahnya hanya bekerja sebagai penjual bakso, penghasilannya pas-pasan tak cukup jika harus membayar uang sekolahnya, sedang sang ibu telah tiada‎.

Danu telah 5 bulan di Pesantren Takhassus Daarul Qur'an Kemang dan membuahkan hafalan sebanyak 22 juz, seharinya ia mengikuti dengan serius apa yang diajarkan para pengasuh. Cita-citanya sederhana bisa sekolah tinggi lalu kembali ke tanah kelahiran untuk mengajarkan ilmunya kepada generasi setelahnya, hafal Qur'an jadi hadiah Danu untuk ibu yang saat ini sudah tiada. Adapula santri yang didatangkan langsung dari Jailolo,  Halmahera Barat dan wilayah terpencil lainnya.

Sungguh menyedihkan melihat pemandangan generasi bangsa ini, umumnya saat anak berajak dewasa usianya produktif banyak lari dalam dunia serba gadget. Pergaulannya dihabiskan untuk menyesuaikan diri terkadang timpang dengan kondisi ekonomi orang tua. Di Takhasus ratusan generasi beranjak dewasa, berbondong-bondong menuju masjid diwaktu sepertiga malam untuk menunaikan shalat tahajud, menahan hawa nafsu dengan puasa sunnah, mulutnya tak berhenti melafazkan ayat suci Al-Qur’an, targetnya hafal 30 Juz.

23 pengasuh yang telah mengabdikan dirinya mengelola Pesantren Takhasus pantang untuk patah arang, mereka harus lebih kebal, sebab mereka menjadi contoh bagi santri yang mereka didik. Para pengasuh pesantren takhasus lahir dari latar belakang yang beragam, ustadz Dedi (28) salah satunya, beliau alumni Al Azhar Mesir pengalamannya dalam dakwah sejak usia remaja telah membawanya ke Cinagara, dan saat ini beliau berkonsetrasi mengelola Takhasus Cinagara.

Ustadz Soleh menuturkan, Pesantren Takhassus ‎merupakan salah satu wadah pengkaderan. Bukan‎ hanya untuk Daarul Qur'an tapi umat di dalam negeri, maupun luar negeri. Tujuan besar PPPA Daarul Qur’an menghadirkan Pesantren Takahasus tak sekedar menjadi wadah pendidikan dakwah Qur’an gratis bagi anak tidak mampu, tetapi santri-santri yang lahir kelak dapat menjadi pemimpin berkarakter Qur'ani, jadi pendakwah bukan hanya pendakwah yang bisa mengajak orang tapi punya kepribadian sesuai seperti apa yang didakwahkan.

Sejatinya amal kebaikan yang kita tebar mampu memberi kebahagiaan bagi orang banyak, apalagi sedekah yang kita keluarkan mampu mengubah nasib generasi yang kelak akan jadi pemimpin negeri ini. Membekalinya dengan pondasi keagamaan sesuai ajaran Al-Qur’an dan Hadist, insya Allah Membangun Indonesia dengan Al-Qur’an menjadi tujuan bersama.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..