Arsip Berita | April 2017
Air Mata Inayah

  08 April 2017    2,108

Air mata Inayah (16) tetiba menetes saat hendak menceritakan alasannya ingin menghafal Alqur’an. Bibir dan tangannya bergetar, sulit mengeluarkan kata-kata. Perlahan, dengan terbata diiringi sesenggukan ia berkata, “Inayah mau merubah keluarga. Karena mereka jauh dari agama,” ujarnya yang semakin gagap bercerita karena tak kuat menahan kesedihan.

Ayah Inayah yang seharusnya jadi imam keluarga, malah tak kenal salat apa lagi puasa. Kampung Inayah di pelosok Palembang, Sumatera Selatan masih primitif, membuat ayahnya sering memakan makanan yang tak halal. Inayah selalu bermimpi sang ayah mengajaknya untuk sekadar salat berjamaah bersama ibu, kakak dan adik-adiknya.

Sejak lahir sampai usianya enam tahun, anak ke dua dari empat bersaudara ini tak pernah sama sekali bertemu ibunya. Kala itu, sang ibu lebih memilih pergi ke Kuwait, Timur Tengah jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Ibu Inayah tak sanggup bersama sang ayah yang begitu sulit diatur. “Inayah baru kenal ibu pas umur 6 tahun. Ibu pulang dari Kuwait. Waktu itu sama sekali enggak kenal itu siapa terus dikasih tau sama tante ternyata itu ibu Inayah,” tutur Inayah.

Kemelut hidup tak membuat Inayah terpuruk. Ia tetap mencintai ayah dan ibunya yang punya banyak kekurangan. Justru, itu semua yang membuat Inayah punya semangat menghafal Alqur’an 30 juz. Mimpi-mimpinya perlahan tercapai. Ayah Inayah, salat. Meskipun masih belum istiqomah. Sang ibu, mendukung penuh Inayah jadi hafizh Qur’an. Adik-adiknya pun termotivasi jadi penghafal Alqur’an.

“Sejak Inayah kenal Alqur’an, semuanya berubah. Alhamdulillah, Ayah juga sekarang sudah puasa walaupun puasanya cuma full pas hari pertama dan terakhir ramadhan. Ayah udah ngerasa malu karena adik-adik puasanya semuanya full,” tutur Inayah yang mulai tersenyum setelah air matanya mengalir deras.

Perjuangan Inayah menghafal Qur’an pun tak mudah. Ia harus pulang pergi dari kampungnya ke kampung lain yang jaraknya cukup jauh. Tak jarang, ia kena omel guru ngaji karena terlambat. Sang ayah juga sempat memintanya berhenti mengaji karena tak sanggup jika harus antar jemput Inayah.

“Akhirnya Inayah bawa motor sendiri. Ngajinya habis maghrib. Karena jauh Inayah berangkat jam setengah 5 sore. Pulang habis Isya sampai rumah jam 11 malam. Takut banget sebetulnya kalau malem karena lewatin kuburan Cina. Tapi Inayah bener-bener mau hafal Qur’an untuk merubah dan menaikkan derajat keluarga,” ujarnya.

Inayah yang sejak Sekolah Dasar (SD) selalu mendapat peringkat 1-3 menolak beasiswa dari salah satu perusahaan rokok ternama. Ia lebih memilih ikut tes penerimaan santri Pesantren Takhassus Daarul Qur’an yang full beasiswa.

Padahal saat itu, Inayah hanya tinggal datang dan menandatangani perjanjian beasiswa dari perusahaan rokok tersebut. Sementara untuk masuk ke Pesantren Takhassus Daarul Qur’an, Inayah harus melalui sejumlah tes lagi. “Hati Inayah maunya ke Alqur’an. Pengennya cuma ngafal, ngafal dan ngafal. Enggak mau sekolah kayak gitu, maunya di Alqur’an,” ucapnya.

Kini, Inayah adalah salah satu dari 11 santriwati Pesantren Takhassus Daarul Qur’an Bangun Reksa, Ciledug, Tangerang. Hafalannya sudah 8 juz. Ia mengaku tak akan pulang ke Palembang jika belum hafal 30 juz. Inayah punya cita-cita sekolah di Mesir dan membangun pesantren di sejumlah negara.

Diusianya yang terbilang masih belia, Inayah memutuskan bercadar. Ia mengaku ingin hijrah menjadi lebih baik. “Inayah dulu tomboy pakai celana levis, suka enggak bisa menahan suara. Jadi biar Inayah malu sama cadar. Ibu juga sekarang sudah berjilbab sejak Inayah menutup aurat,” katanya.

Pesantren Takhassus Daarul Qur’an memang diperuntukkan kepada anak-anak seperti Inayah. Memfasilitasi generasi muda yang punya semangat menghafal Qur’an, sekaligus wadah pengkaderan calon-calon pemimpin yang punya karekter Qur’ani. Mudah-mudahan, Inayah jadi salah satu penerus dakwah PPPA Daarul Qur’an untuk menyiarkan Alqur’an di Nusantara maupun dunia.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..