Arsip Berita | April 2017
Mengaji untuk Merapi

  06 April 2017    572

Jumini, adalah seorang wanita dusun Kalitengah Kidul, Cangkringan, Sleman. Saat itu usianya masih 22 tahun dan belum genap dua tahun melahirkan anak pertamanya. Jumini baru saja keluar dari tempat kerjanya di pabrik rokok di daerah Klaten, Jawa Tengah. Terlanjur keluar, Jumini tak tahu lagi harus bekerja apa. Uang tabungan tak ada, hanya sisa gajinya yang bisa digunakan untuk bertahan hidup bersama suami dan anaknya.

Merapi lalu erupsi pada tahun 2010 silam. Dusun Kalitengah Kidul luluh lantak. Semua warga mengungsi. Sekembalinya Jumini dari pengungsian, jantungnya seolah berhenti berdetak, satu dua tetes air mengalir pelan dari mata Jumini, bibirnya bergetar, memandang kampungnya menjadi debu. Tak ada harta benda yang tersisa.

Jumini menjadi saksi atas kejamnya bencana Merapi yang mengakibatkan luka batin mendalam. Kehilangan keluarga disusul kemiskinan tiba-tiba. Tak ada lagi ladang yang bisa digarap. Penuh harap akan datangnya sebuah bantuan, banyak warga mulai menjual agamanya untuk sekardus mie instan.

Beberapa waktu setelah kembali dari pengungsian, seorang teman memberinya pekerjaan dengan membuka kios binatu tak jauh dari kampungnya. Ada sebuah kios lengkap dengan peralatannya. Tiap pagi Jumini menggendong anaknya yang belum genap dua tahun berjalan kaki menuju tempat binatu.

Pulangnya pun sama. Jumini menggendong anaknya sambil berjalan melalui jalanan sepi. Batang-batang pohon Kaliandra menyaksikan perjuangan wanita Jawa berkerudung itu. Kemiskinan akibat bencana terlampau cepat membuatnya harus membantu suami untuk segera menstabilkan kondisi ekonomi keluarga kecilnya.

Rumah Jumini yang rata dengan tanah menyisakan kenangan menyesakkan dada. Jumini tak bisa meratap lama-lama. Ia ingat pesan seorang nenek yang juga tetangganya. Nenek yang bernasib sama dengannya: kehilangan rumah, tempat tinggal, juga ladang dan ternaknya.

“Bencana niku nggih ten pundi-pundi. Kawit riyin Merapi riki nggih kenging bencana terus, ning buktine nggih sepriki tasih kathah sing urip teng mriki. Menawi Gusti Allah tasih maringi urip, rak nggih diken mlayu. (Bencana itu ada di mana saja. Dari dulu di lereng Merapi ini juga selalu ada bencana, tapi buktinya masih banyak orang yang hidup di sini. Kalau Gusti Allah masih memberi kesempatan hidup, pasti kita juga disuruh lari menyelamatkan diri),” ungkap Jumini dengan mata berkaca mengenang nenek itu.

Hampir setengah tahun kemudian sejak Merapi meletus, tahun 2011 Jumini dan ratusan warga lainnya patut bergembira. Tiap warga berhak mendapatkan sebuah rumah semi permanen dari PPPA Daarul Qur’an. Jumini lebih bergembira lagi karena akhirnya kampungnya resmi menjadi Kampung Qur’an yang dibina langsung oleh PPPA Daarul Qur’an.

Tiap sore ia mengantar anaknya mengaji ke saung (musholla) karena anaknya tak mau mengaji bila ditinggal. Santri-santri terus bertambah. Mas Aryo, pendamping Kampung Qur’an dari PPPA Daarul Qur’an, kewalahan mengajar. Mas Aryo lalu meminta Jumini membantu mengajarkan Iqro’ untuk anak-anak. Berbekal pengalaman mengajar TPA saat masih SMP dulu dirasa cukup banyak membantu.

“Tapi ya masih begini ngajinya. Masih sebisanya. Malah setelah ngajar sama Mas Aryo saya banyak tahu. Saya banyak belajar,” kenang Jumini dengan menahan senyum bahagia.

Kini Mas Aryo telah purna tugasnya di Merapi. Jumini, menjadi pewaris kepengurusan TPA sepenuhnya. Bersama para muda-mudi di kampung itu, Jumini kembali membangun TPA Daarul Ilmi di Merapi dengan penuh keceriaan. Sebuah masjid baru menjadi tempatnya mengajarkan Alqur’an kepada anak-anak. Bukan hanya itu, Jumini kini mengajarkan tentang Tauhid dan Fiqih. Satu kemajuan pesat untuk dakwah Islam di kampung paling atas di lereng Merapi.

Jumini yakin bahwa keteguhan iman anak-anak dusun Kalitengah Kidul adalah yang utama. Karena bencana kelak akan terus berulang, kemiskinan pun demikian. Ia hanya berharap bahwa tauhid itu tumbuh di dalam dada santri-santrinya, anak-anak lereng Merapi. Agar kelak, bila suatu hal terjadi, tak akan ada yang bisa menggadai iman untuk sekardus mie instan dan sekaleng susu.

Perjuangan Jumini belum berakhir. Masih panjang masa untuk membangun generasi Merapi yang cemerlang dan sholih. Jumini pun tak akan bisa selamanya sendiri. Semoga seperti harapannya, anak-anak didiknya kelak menjadi penerus yang lebih hebat darinya dalam menyampaikan Islam dan mengajarkan Alqur’an untuk “Merapi”. Insyaallah, Aamiin.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..