Arsip Berita | Maret 2017
Tiang Dakwah di Pulau Perbatasan

  15 Maret 2017    1,009

Pulau Sebatik adalah pulau seksi milik Indonesia, keberadaanya menjadi pulau terdepan dan terluar di Indonesia. Pulau ini berada di Kalimantan Utara, tak ayal wilayah ini menjadi lintasan antara negeri tetangga dan Indonesia sendiri. Konon sejarahnya Sebatik salah satu tempat dimana terjadi pertempuran hebat antara pasukan Indonesia dan Malaysia saat terjadi konfrontasi.

Strategisnya Pulau Sebatik yang berada di perbatasan Indonesia-Malaysia membuat wilayah ini dengan mudah jadi pintu masuk penyelundupan narkoba. Seks bebas pun jadi hal lumrah di kawasan ini. Begitu banyak anak-anak muda yang umurnya sekitar 16 tahun ditangkap polisi lantaran kedapatan membawa obat-obatan terlarang itu. Lintasan bebas ini semakin menggrogoti budaya dan masa depan generasi di Sebatik, karena minimnya dakwah sebagai benteng pertahanan akidah masyarakat.

Ketertinggalan pembangunan di Sebatik dibanding tetangga terdekatnya, dimanfaatkan gembong-gembong narkoba yang tak terhitung jumlahnya bahkan, ada pasangan guru yang juga tertangkap karena jadi bandar narkoba. “Di Sebatik, orang mau nyelundupin apapun bisa di mana-mana. Jadi kalau di sana orang menyelundupkan narkoba bukan per ons lagi tapi sudah kiloan,” ujar General Manager Program PPPA Daarul Qur’an, Jahidin Jey saat meninjau wilayah Sebatik.

Gerakan membumikan Alqur’an dan membangun masyarakat Qur’ani terus digencarkan PPPA Daarul Qur’an. Keperihatinan terhadap kondisi dan masa depan generasi pulau perbatasan, mendorong PPPA Daarul Qur’an menelurkan rumah tahfizh di Pulau Sebatik. Kini telah hadir tiga rumah tahfizh yang diharapkan dapat memperbaiki moral masyarakat, akhlak dan akidah generasi bangsa. Setiap hari anak-anak di Sebatik didorong mendaras Qur’an, memahami setiap kalam, dan memperbaiki salat.

“Rumah tahfizh adalah instrument mengembalikan karakter masyarakat kepada yang benar. Kami perbaiki dulu mulai dari anak-anknya. Kalau anak-anaknya beres, insyaAllah mereka akan jadi penggerak, motor perubahan minimal pada keluarganya,” tutur Jahidin.

Kini sudah ada 230 santri yang belajar dan menghafal Alqur’an di rumah-rumah tahfizh Pulau Sebatik. Sejumlah santri sudah punya hafalan 5 juz. Beberapa anak yang orang tuanya menggunakan narkoba juga ikut mengaji.

“Alhamdulillah, rumah tahfizh banyak memberikan manfaat dan perubahan kepada masyarakat terutama anak-anak para pengguna narkoba. Meskipun ada di daerah perbatasan, kami ingin menunjukkan bahwa Sebatik itu punya banyak pengahfal Qur’an,” ujar Ustad Ilham, Koordinator Rumah Tahfizh Wilayah Kalimantan Utara.

Membangun Indonesia dengan Alqur’an merupakan ikhtiar PPPA Daarul Qur’an. Mendirikan, mencari mitra dan memperluas jaringan rumah-rumah tahfizh di Indonesia adalah salah satu upaya untuk meciptakan generasi-generasi berjiwa Qur’ani, program ini Nyata untuk Indonesia. PPPA Daarul Qur’an sendiri membuka kemitraan dengan siapapun, baik perorangan, yayasan atau perusahaan yang berkeinginan menghadirkan rumah-rumah tahfizh. Jika ingin bergabung silahkan hubungi kontak Rumah Tahfizh Center (RTC) 081219590304.

“Indonesia ini luas. Indonesia bukan hanya Jakarta. Banyak masalah-masalah krusial yang harus sama-sama kita selesaikan. Di Singkawang, Sambas atau Mentawai, daerah-daerah pelosok lainnya. PPPA Daarul Qur’an akan terus menelusuri daerah-daerah yang belum tersentuh dan belum ada rumah tahfizh di sana. Tentunya dukungan masyarakat menjadi doa terlaksananya setiap program-program kami,” ucap Jahidin.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..