Arsip Berita | Maret 2017
Pengabdian di Pelosok Timur Indonesia

  04 Maret 2017    774

Setiap sore menjelang senja terbenam dari ufuk barat, tampak sempurna pemandangan dengan gunung-gunung dan hamparan pasir laut. Duduk di bebatuan dan saung-saung sederhana pinggir pantai, Fathur Rahman (26) Pengasuh Kampung Qur'an Bobanehena, Jailolo, Halmahera Barat, menemani setoran hafalan santri-santrinya. 

Tak terasa, satu bulan sudah Fathur melalui PPPA Daarul Qur'an mengabdi di pelosok Timur Indonesia itu. Dekat dengan Ternate, tapi harus menggunakan transportasi speed boat menyebrangi laut Maluku sekitar satu jam untuk sampai di sana.

Menghafal 30 juz adalah impian santri-santri Kampung Qur'an Bobanehena. Setiap Shubuh, tanpa paksaan mereka berangkat ke saung-saung tempat mereka mengaji. Usai salat, mulut mereka berkomat kamit memurajaah hafalan juz 29 dan 30 mulai dari surat An Naba.  Selalu begitu setiap harinya.

"MasyaAllah, semangat mereka menghafal selalu menggetarkan hati. Suasana itu pulalah yang selalu memgingatkan saya pada masa-masa menghafal Alqur'an bersama teman-teman sewaktu mondok di Pesantren Modern Darussalam Gontor dan Al Ahgaff University," kenang Fathur.

‎Buat para santri, memurajaah hafalan adalah hal paling asyik. Apa lagi saat berjalan dari rumah ke saung tempat mengaji, tetiba ada warga yang memanggil sekadar iseng menguji hafalan para santri. "Hei kamu sini, coba hafalkan surat An Naba ?" tanpa berpikir panjang, santri langsung melantukannya. Bagi mereka, surat An Naba sangat mudah. Sebab, hampir seluruh waktu salat mereka selalu menyetorkan hafalan.

Tak bisa dipungkiri memang, santri terkadang jenuh dan mengeluh. "Ustadz, kami capek ini, lelah, stres ngafal terus," kata beberapa santri yang langsung ditanggapi dengan senyuman dan dijawab, "Mau capek atau mau makan cabai," ucap Fathur sambil tertawa. Mereka pun kembali bersemangat.

Alhamdulillah 25 santri kembali mengikuti acara khataman Qur'an juz 29-30. Target dalam satu bulan khatam satu juz bisa terealisasikan. Kini, sekitar 40 santri di Bobanehena sudah menghafal juz 29-30 setelah pada Desember lalu, 19 santri diwisuda.

Gelaran khataman Qur'an oleh 25 santri disaksikan langsung oleh Ketua Yayasan Kampung Qur'an Bobanehena, Sofyan Labuha dan Kepala Desa Bobanehena, Iswan Idrus.

Cerita santri bisa ikut Khotmul Qur'an pun beragam. Santri bernama Nurul Insyiroh misalnya, yang harus menghafal cepat karena waktu khatam sudah tinggal satu hari lagi setelah ia baru sembuh dari sakit malaria. Dalam 30 menit, Nurul bisa menghafal surat An Naba. Ia pun akhirnya lolos seleksi mengikuti wisuda juz 30 nanti. Begitu juga dengan Ulfa, santri akhwat paling muda yang masih mengemban ilmu di Sekolah Dasar (SD), dalam lima hari ia mampu menghafal 3 surat.

Kenakalan dan tidak nurutnya para santri di tengah-tengah proses belajar mengaji adalah hal wajar yang selalu dinikmati Fathur. Namun, bimbingan dan arahan agar mereka jadi generasi muda berjiwa Qur'ani tetap wajib dilakukan.

Ada titipan doa dari para santri Bobanehena, mereka berharap Guru Besar (Adda’i ilallah dan Murobbi Ruuhina Syaikh Ustadz Yusuf Mansur) selalu berada di bawah linduganNya dan selalu dimudahkan dalam rihlah dakwahnya dari suatu tempat ke tempat lain dan dari suatu pelosok ke pelosok lain. Doa terbaik juga bagi seluruh donatur PPPA Daarul Qur'an yang telah menjadikan mereka generasi Qur'ani.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..