Berita Cabang | Jogjakarta

Kisah Tergadainya Iman dan Rumah Tahfidz

  24 Februari 2017  

Seorang anak lelaki berjalan pelan menuju pasar Magelang, kira-kira satu atau dua tahun lalu. Anak lelaki itu membeli se-kresek beras dengan uang kertas lusuh yang sedari tadi digenggam erat. Di kios pasar, seorang ibu pedagang bertanya, “kenapa ke pasar sendirian?” Anak lelaki itu menjawab dengan bibir sedikit gemetar mengatakan tentang simbahnya yang sudah lunglai dan renta, juga kehidupannya tanpa bapak ibu dan tiada uang untuk sekadar berangkat sekolah.

Anak lelaki penggenggam kresek beras tadi adalah satu kisah pilu pasca erupsi Merapi 2010 lalu. Erupsi Merapi tetap menyisakan kemalangan di satu desa lereng gunung perbatasan antara Magelang dan Sleman. Ribuan anak-anak dari ratusan keluarga mengalami kisah yang sama.

Pasca erupsi 2010, Kehidupan semakin sulit. Ratusan keluarga kini telah bekerja, tetap saja kurang untuk bersandang pangan dengan layak. Ratusan keluarga telah berganti agama. Lapar dan haus memang tak tertahankan. Satu atau dua lagu pengharapan didendangkan untuk mengganjal perut dan sebotol susu untuk bayi-bayi di lereng Merapi.

Anak-anak putus sekolah pun tak pernah mengaji. Karena Islam adalah minoritas di kampung-kampung minim akses di lereng Merapi. Di kampung itu, adzan menjadi suara asing. Adzan tidak terdengar seperti suara “kemenangan”. Warga lebih akrab dengan suara lonceng dan lagu-lagu pengharapan.

Kisah ini sampailah ke telinga seorang wanita paruh baya pedagang beras dan sembako di pasar beberapa tahun lalu. Bu Nur namanya. Atas izin Allah, Bu Nur membangun sebuah masjid di atas tanah 1.000 m2, tepat di belakang rumah pendeta di kampung lereng Merapi tersebut. Satu berkah tanpa kesengajaan, namun telah digariskan.

Adzan kini sudah mulai berkumandang, anak-anak mulai mengaji. Rumah Tahfidz pun berdiri kemudian. 55 anak dari berbagai latar keluarga lemah hidup dalam naungan Rumah Tahfidz itu. Rumah Tahfidz itu bernama Al-Barokah Merapi, berharap menjadi berkah untuk anak-anak yang hampir tergadai imannya karena lapar dan haus yang tak tertahankan atau untuk mereka yang tak punya rumah karena diusir musabab perbedaan agama.

Rumah Tahfidz Al Barokah Merapi dan 41 Rumah Tahfidz lain di wilayah Yogyakarta berkumpul pada Sabtu (18/2) lalu di Sarasehan Rumah Tahfidz wilayah Yogyakarta. Mereka berkumpul bersama, mengucap visi tentang membangun masyarakat dengan Alqur’an. Mereka juga meramu misi besar menanamkan tauhid dalam kemanusiaan dengan mendirikan kewajiban dan menghidupkan sunnah di tengah masyarakat.

Puluhan Rumah Tahfidz di wilayah Yogyakarta pun hari itu menata kembali niat, misi, hingga tata kelolanya, berharap menjadi gerakan bersama untuk mensyiarkan Qur’an. Ustadz Asnal Ma’arif dan Ustadz Abdur Rohman dari Rumah Tahfidz Center (RTC) PPPA Daarul Qur’an memandu menyelaraskan gerakan Rumah Tahfidz Wilayah Yogyakarta agar menjadi kebaikan di tengah kebaikan, juga menjadi kebaikan di tengah keburukan. Bismillah.

Rumah Tahfidz Al Barokah dan ribuan rumah tahfidz lain di seluruh pelosok Indonesia adalah gerakan kebaikan yang harus ditata. Rumah Tahfidz adalah satu kekuatan bersama melampaui batas ras, golongan, juga kepentingan. Rumah Tahfidz adalah satu ikhtiar untuk merawati sejuta kisah tentang lapar, haus, sekolah yang tak terbayar, air mata, juga se-kresek beras yang harus segera ditanak di tungku perapian.

Semoga, seluruh Rumah Tahfidz bisa menjadi kebaikan di Indonesia dengan memuliakan manusia melalui Alqur’an nan Kariim, menjadi berkah di tengah kekurangan, dan Alqur’an menjadi rumah bagi mereka yang tak punya tempat untuk pulang. Aamiin.

 

Tim Program PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta