Berita
Jembatan Kehidupan Parung Panjang

  11 Agustus 2017    182

Sudah hampir 100 tahun jembatan Cimanceuri Parung Panjang yang merupakan akses utama masyarakat Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor berdiri. Jembatan ini satu-satunya penghubung Desa Jagabita dengan Desa Bojong Bitung, Legok, Tangerang.

Namun, masyarakat Jagabita hanya bisa melewati jembatan ini dengan berjalan kaki dan menaiki kendaraan bermotor. Itu pun harus bergantian. Sebab dibangun dengan bambu seadanya, hasil patungan warga. Sampai detik ini, tak pernah ada bantuan dari pemerintah. Jika jembatan sudah terlihat rapuh, masyarakat desa kembali iuran seikhlasnya.

“Biasanya setahun sekali dibenerin jembatannya. Karena bambu kan kena air pada rusak dan keropos,” ujar Yadi Setiadi, Ketua RT 03 Desa Jagabita saat ditemui tim PPPA Daarul Qur’an, Jumat (4/8).

Jika musim hujan tiba, tutur Yadi, warga kesulitan melewati jembatan. Sebab, jalan kampung yang masih tanah merah membuat jembatan yang dibangun dengan bambu licin untuk dilalui. Akses pendidikan, ekonomi dan aktivitas masyarakat Jagabita pun terhambat.

“Jembatan enggak bisa dilewati mobil, harus muter sekitar 4 KM. Makan waktu banyak, karena kalau enggak muter cuma 1 KM. Jadi di sini kalau mau kemana-mana jauh. Anak sekolah harus diantar. Apalagi pas hujan, kalau enggak terpaksa banget kami enggak akan keluar kampung,” ucapnya.

Jembatan yang mudah rapuh ini pun pernah memakan korban, hampir setiap tahun pasti ada yang jatuh saat melewatinya. “Yang paling parah, baru-baru ini jembatan roboh ada dua warga sini keceplung sama motor-motornya. Orangnya masuk rumah sakit, motornya hanyut,” ujar Yadi.

Karenanya, sudah hampir 100 tahun penduduk Desa Jagabita yang sebagian besar bekerja sebagai petani, kuli bangunan dan buruh pabrik ini menanti jembatan yang berdiri kokoh. Upah yang tak seberapa membuat mereka tak mampu membangun jembatan dengan beton-beton yang kuat. “Ada sekitar 270 KK di sini. Kebanyakan memang lulusan SD saja, ya kerjanya serabutan saja,” ucap Yadi.

Melalui program Jembatan Kehidupan, PPPA Daarul Qur’an berupaya membantu kesulitan yang dialami warga Desa Jagabita dengan membangun jembatan Parung Panjang menjadi jembatan yang layak dilewati masyarakat. Sehingga, warga tak perlu lagi susah payah saat melewati jembatan itu.

InsyaAllah, Sabtu (12/8) akan digelar simbolis peletakan batu pertama pembangunan jembatan Cimanceuri, Desa Jagabita, Kecamatan Parung Panjang, Kabupaten Bogor. Bersama komunitas PayTren, acara ini dimulai sejak Jumat (11/8). Para peserta akan mengikuti sejumlah kegiatan mulai dari diskusi kemanusiaan sampai dengan kerja bakti bersama warga kampung Jagabita.

Program Jembatan Kehidupan diinisasi PPPA Daarul Qur’an untuk mereka, masyarakat yang daerahnya sama sekali belum tersentuh tangan-tangan penguasa negeri. Tujuannya adalah memantik desa tumbuh mandiri agar bebas dari ketimpangan ekonomi, sosial dan pendidikan.

Program ini juga tak lepas dari tema besar “Membangun Indonesia dan Dunia dengan Alqur’an”. Usai jembatan dibangun, PPPA akan menyelipkan nilai-nilai Qur’an kepada warga dengan mendirikan Kampung Qur’an atau Rumah Tahfizh.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya ..