Berita
Sugiharto, Berdakwah dalam Kelumpuhan

  10 Agustus 2017    118

Kamis siang (3/8), tim PPPA Daarul Qur'an Yogyakarta datang berkunjung ke rumah Sugiharto. Beliau adalah seorang pendakwah asal Banyumas. Lebih dari separuh tubuhnya lumpuh. Jemari kurusnya bergetar hebat menyalami tangan kami yang baru saja tiba.

Air matanya menetes deras mengetahui asal lembaga kami, yakni PPPA Daarul Qur'an. Bertambah basah, Sugiharto mengucap kerinduannya membaca kembali kitab-kitab pegon untuknya tetap berdakwah. Hari-harinya selalu dikelilingi anak-anak kampung untuk mengaji Iqro'.

Sore itu, belasan anak mengelilingi tubuhnya yang kini berusia 39 tahun terbujur lemas di atas dipan. Sebuah kain jarik menyelimuti tubuhnya yang kurus. Rambut panjangnya yang masih hitam dibiarkan terurai memeluk bantal kapuknya. Di sampingnya terlihat tumpukan kitab-kitab lawas yang sedikit berdebu.

Ini sudah tahun ke 16 sejak ia terbaring, terbujur dalam tafakkur. Sebuah kecelakaan menimpanya saat usianya masih muda. Tahun 2002, suatu hari ia sedang perjalanan dari mengaji di pondok pesantren di Cilongok. Nahas, sebuah bus patas melindas tubuhnya. Ia mati rasa seketika.

Lukanya segera dioperasi. Tak berhasil, tubuhnya menurut saja dipindah-pindah rumah sakit dari Banyumas sampai ke Solo. Namun kondisi keuangannya tak mengizinkan ia berobat. Beberapa rumah sakit menyatakan tak sanggup mengobatinya. Ia pun divonis lumpuh seumur hidup.

Sugiharto pasrah. Saraf tulang belakangnya sudah tidak berfungsi. Sekadar duduk pun ia tak mampu. Sugiharto menjadi pengangguran. Istrinya pun lebih memilih meninggalkannya dan kini sudah menikah lagi.

Sugiharto tabah. Ia bersyukur, hanya tubuhnya yang lumpuh. Alhamdulillah, ingatannya selama mengaji di pesantren masih utuh. Kedua tangan kurusnya pun masih sigab membuka lembaran Alqur'an dan kitab-kitab hadits.

Untuk mengusir sepi dan bosan, ia memilih mengajar ngaji anak-anak tetangganya. Tiap sore belasan anak-anak akan belajar Iqro' sampai bisa membaca Qur'an. Ia pun sama sekali tak memungut biaya dari kegiatan mengajarnya.

Bukan tak ada yang peduli. Beberapa kali, ada yang menawarkan berobat ke rumah sakit. Tapi ia bahkan ketakutan mendengar suara ambulans.

"Jika ingin membantu, bantu biaya hidup sehari-hari saja,” ungkapnya lirih mengingat ia hanya tinggal bersama ibunya yang bekerja serabutan.

Seringkali, Sugiharto sedih melihat ibunya harus bekerja dengan upah yang terlampau murah.

Dalam sehari, ibunya, Tisem, hanya bisa mengupas bawang sebanyak 3 kg yang diupah Rp. 1.500 saja per kg. Hasilnya, tentu saja belum cukup untuk biaya makan sehari-hari. Ditambah lagi, harus membeli obat dan perban Sugiharto.

Meski demikian, ia selalu bersyukur karena tangan-tangan Allah selalu datang membantu. Ia pun semakin semangat dalam mengajar anak-anak mengaji.

InsyaAllah, kitab-kitab pegon yang sangat dirindukan Sugiharto, dipan baru yang segera berganti, juga dukungan program Simpatik Guru akan disalurkan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta. Pamrihnya, Sugiharto akan terus bersemangat dalam keterbatasannya dan setiap dari kita yang membaca kisah Sugiharto akan mengambil pelajaran dalam mendakwahkan Alqur’an.

Inilah kisah Sugiharto. Pemuda yang menghabiskan masanya dengan berdakwah dalam kelumpuhan. Dipannya kelak akan menjadi saksi perjuangannya mengenalkan Alqur'an untuk anak-anak muslim di rumahnya, Dukuh Pucung, Ajibarang, Banyumas.

"Pokoknya mas, saya hidup di sini, mati juga di sini. Yang penting saya bisa ngajar ngaji Alqur’an,” ungkap pria lulusan SD ini mengundang keharuan.

Semoga ketulusannya dalam berdakwah selalu diberi kemudahan oleh Allah SWT. Semoga ilmunya menjadi jariyah yang akan menuntunnya menuju syurga Allah yang agung. Aamiin.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya ..