Berita
Pahlawan Qur'an Kampung Jagalan

  24 November 2017    701

Pintu bengkel baru saja ditutup, kumandang adzan menyegerakannya untuk membersihkan diri dari oli dan debu-debu kotor yang menempel di badan. Supriyadi (60) bergegas mengganti baju bengkelnya dengan baju koko lengkap dengan sarung dan peci putih yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Para jamaah sudah menanti di lantai dua Mushola At Taubah yang letaknya hanya bersebelahan dengan bengkel tempat beliau bekerja.

Tumpukan besi dan baja tersusun rapi, reparasi elektronik, gas elpiji, bensin hingga es batu memenuhi ruangan bengkel milik pria asli Semarang ini. Berbagai jenis pekerjaan hingga menjadi buruh kasar ia lakukan, tak sedikitpun membuatnya merasa terhina. Baginya ini hanyalah sebuah ikhtiar dunia untuk sebuah panggilan dakwah di tanah kelahirannya.

Ustad Supri sapaan akrabnya, adalah sosok ayah bagi delapan puluh santri dan santriwati TPQ At Taubah, Jagalan, Grajen, Semarang Tengah. Tinggal di zona merah yang rawan akidah membuatnya berjuang melawan dan tetap kukuh bertahan. Di saat para sahabat dan sejawat perlahan meninggalkan keyakinannya, Supri dan istri hanya mampu mengetuk pintu langit dalam kondisi terhimpit.

Berada di pusat kota dalam kepungan masyarakat berlatar belakang pendidikan rendah dan tekanan ekonomi yang sulit adalah tantangan awal yang ia dihadapi. Mencoba menawarkan generasi robbani yang paham akidah nampaknya tak cukup kuat menjadi senjata untuk mengambil hati masyarakat Jagalan. Sementara lembar-lembar rupiah perlahan mulai menggerogoti akidah dengan iming-iming pekerjaan tetap dan hidup mapan.

Sebuah koperasi berbasis syar’i dan tertutup pun sengaja dibentuk untuk memenuhi kebutuhan umat, alat kontrol sosial sekaligus sarana untuk menjalin silaturahim digagas sebagai bentuk perlawanan terhadap keadaan. Nahas, koperasi yang digadang sebagai alat pemersatu dan penguat umat itupun hanya bertahan dalam hitungan bulan. Lagi-lagi Supri dan istri harus memutar otak untuk menyelamatkan generasi umat.

Sebuah TPQ ala kadarnya di sebuah ruang berukuran 2x2 meter di ruang tengah mulai dibuka bagi generasi di Kampung Jagalan. Mula-mula hanya mengajak tetangga di sebelah kanan dan kiri. Kini hampir delapan puluh anak terdaftar di TPQ At Taubah dibawah bimbingan Supri dan istri.

“Walau sendiri ini adalah sebuah jalan yang kami pilih untuk diperjuangkan. Kalau dilihat memang sekilas kehidupan kota tampak indah dengan gedung gagah dan hiburan yang ditawarkan. Tapi sebenarnya kami sangat rapuh dan terhimpit dalam keadaan. Tugas kami hanya melempar anak panah, entah dari generasi mana yang akan terkena nantinya kita hanya berikhtiar,” ujar Supri.

Supri adalah salah satu dari ratusan pahlawan Qur’an di pelosok Nusantara yang didukung kegiatan dakwahnya oleh PPPA Daarul Qur’an melalui program Simpatik Guru. Perjuangan Supri dan pejuang dakwah lainnya patut diapresiasi karena dari mereka lahir generasi robbani yang cinta Alqur’an.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya ..