Artikel
Bagaimana Anda Mengukur Kebahagiaan?

  3,965


“Enakan jadi orang bahagia, kalo bahagia adalah segalanya, kaya tapi kagak bahagia buat apa ustadz, he he he…” jawab Bang Haji dengan enteng sambil memberikan alasan diselingi senyuman khasnya khasnya.

Saudara, secara umum manusia memandang bahwa kekayaan dapat mengantarkan diri kepada kebahagiaan. Ternyata pernyataan ini tidak selamanya benar bahkan keliru. Kebahagiaan memang menjadi faktor yang begitu didambakan bagi setiap insan. Hampir segala tujuan muaranya ada pada kebahagiaan. Kebanyakan orang baru bisa merasakan ‘hidup’ jika sudah menemukan kebahagiaan.

Pertanyaannya... di mana kita bisa mencari kebahagiaan? Apakah Di dalam mobil dan rumah mewah?, Apakah di pusat pertokoan? Salon kecantikan yang mahal? Restoran mewah? Di Bali? Di Hawaii? di Paris? Di Hongkong, Singapur, atau di mana?

Sesungguhnya, kebahagiaan itu tidak perlu dicari kemana-mana, karena ia ‘ada di hati setiap manusia’. Ya, Carilah kebahagiaan dalam hati kita! Telusuri 'rasa' itu dalam kalbu kita! Percayalah, ia tak akan lari kemana-mana... Anda ingin tahu bagaimana mendapatkan kebahagiaan ‘setiap hari’ ?

Pernah saya tulis kisah Effendi di salah satu buku Wisatahati. Effendi, seorang eksekutif muda di kawasan Sudirman sudah memiliki segalanya, karir yang bagus, rumah mewah, mobil bagus, istri cantik dan anak yang lucu. Tetapi ia masih merasa ada yang kurang dalam kehidupannya.

Dikisahkan suatu hari ketika ia sedang melakukan lari pagi, ia bertemu seorang ibu yang sedang menangis. Biasanya ia tidak mau peduli. Tapi kali itu ada kekuatan lain yang memaksanya menyapa sang ibu.

“Gerangan apa yang membuat ibu menangis?” tanyanya. Rupanya, si ibu tersebut baru saja dipecat dari tempat kerjaannya. Sedang di hadapannya terbentang beragam kesusahan. Dari masalah anaknya yang sakit, suaminya yang juga menganggur di rumah sakit menahun, hingga ketiadaan makanan dan uang.

Effendi tergerak membantu. Diantarnya ibu tersebut pulang, diberinya uang secukupnya. Sementara itu anak dan suaminya dibawa ke dokter terdekat.

Hari itu, Tuhan Sang Pemilik Kebahagiaan rupanya senang melihat apa yang dilakukan Effendi. Hari itu, Effendi merasakan satu kebahagiaan yang segera melengkapi kebahagiaan yang ia rasakan kurang. Ternyata, selama ini kekurangannya itu adalah ia tidak pernah membantu orang. Tidak pernah mau berbagi kebahagiaan.

Sekarang bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bahagia melihat orang lain tidak bahagia? Apakah Anda bahagia bila misalnya Anda tahu bahwa kebahagiaan Anda itu hasil menari-nari di atas penderitaan orang? Apakah Anda masih tetap senang, bila sementara itu Anda tahu bahwa ada yang menangis sebab cara Anda meraih kesenangan? Anda sendirilah yang tahu jawabannya.

Syukur-syukur kalau Anda bisa tidak bahagia kalau ada orang di sekeliling Anda juga tidak bahagia. Lebih bersyukur lagi, bila Anda mampu membuat orang di sekeliling Anda bahagia.

Saudara, Tuhan Pemilik Kebahagiaan tentu senang kalau melihat kita bisa bahagia. Karena ‘kebahagiaan-Nya’ adalah ketika melihat kita bahagia. Dan lagi kehadiran-Nya adalah agar kita mampu merasakan kebahagiaan. Tapi, Dia juga tidak akan senang kalau kemudian kita menikmati kebahagaiaan dalam kesendirian, alias tidak mau berbagi. Apalagi kalau kebahagiaan itu kita dapat dengan merugikan orang lain.

Dan ketahuilah, Tuhan teramat Kuasa untuk membuat kita tidak bahagia, justru ketika kita seharusnya menjadi orang yang berbahagia menurut kebanyakan orang. Artinya, Dia hilangkan rasa kebahagiaan di hati kita, di kehidupan kita.

Munajat

Gawat betul ya Rabb, bila kami tidak mampu meraba penderitaan orang, yang kemudian membuat kami tidak mampu berbagi. Suatu saat, ketika kami berposisi sebagai orang yang membutuhkan, tiada yang peduli, bahkan mungkin Engkau juga, sebab kami sendiri tidak mau peduli.

Ya Rabb, ukuran kebahagiaan bila semata kebahagiaan tanpa cerminan di depan dan di belakangnya, maka patutlah kami pertanyakan ulang. Bagaimanakah jika ternyata ada orang yang menangis lantarannya? bagaimanakah kalau ada orang yang justru kami buat tidak bahagia?

Wahai Zat yang memiliki bimbingan, bimbinglah kami menemukan arti dari kebahagiaan. Yaitu salah satunya adalah ketika kami merasa bahagia ketika kami bisa membahagiakan orang.

Salam, Yusuf Mansur



Artikel lainnya ..


Arsip Artikel