Arsip Berita | Februari 2017
"Warung Shodaqoh" Pak Amin

  27 Februari 2017    1,018

Siang itu, nampak seorang ibu berjilbab ungu tengah asyik bercengkrama dengan para ibu lainnya di suatu warung yang tak terlalu besar. Hanya ada dua meja besar dan beberapa bangku panjang di dalamnya. Obrolan tampak berlangsung gayeng (menyenangkan), diiringi dengan tawa sesekali. “Monggo, silahkan masuk,” ujar si ibu mempersilahkan tim PPPA Daarul Qur’an Malang masuk ke dalam warung dan memperkenalkan diri.

Didampingi Bu Ainun, salah satu simpul donatur, tim PPPA Daarul Qur’an Malang berkunjung ke sebuah warung nasi yang diberi nama “Warung Shodaqoh”, terletak di Kota Batu, sekitar alun-alun Malang. “Pak Amin sedang keluar. Biasanya jam segini memang sudah mulai berkurang pengunjungnya, yang ramai sebelum Jumatan dan sesaat setelah Jumatan,” ujar ibu berkerudung ungu itu, istri dari Pak Amin, sang pemilik dan penggagas “Warung Shodaqoh” yang beroperasi setiap hari Jumat ini.

Ada alasan di balik pemilihan nama “Warung Shodaqoh”. Warung yang berdiri sejak akhir 2015 ini sama sekali tak memungut biaya bagi siapapun yangingin mengisi perut. Berawal dari adanya bangunan milik mertua yang tak terfungsikan, timbul ide memanfaatkan bangunan. Berangkat dari kebutuhan harian yang cukup banyak dengan jumlah pemasukan yang mepet, terpikir di benaknya untuk “mengeluarkan” lebih.

Pemikiran yang memang tidak umum dibanding dengan orang lain. Di kala orang lain justru berpikir untuk menambah pemasukan, mereka berpikir sebaliknya. Justru ketika merasa kurang, sejatinya yang harus dilakukan adalah “mengeluarkan” lebih. Itulah awal mula berdirinya “Warung Shodaqoh”.

Bukan tanpa halangan dalam menjalankan “Warung Shodaqoh” ini. Sebelumnya, warung ini diberi nama “Warung Dhuafa”. Dengan niatan, setiap orang yang melihat, paham bahwa warung ini memang ditujukan untuk yang membutuhkan. Namun, langkah ini tidak seperti yang diharapkan. Hanya segelintir orang yang mau mampir ke warung ini, meskipun sudah diberi embel-embel gratis dan sepuasnya. Setelah ditelisik, ternyata kebanyakan orang gengsi untuk mampir dan masuk ke warung ini. Tak semua orang mau dianggap sebagai kaum dhuafa. Beralih strategi, nama warung dhuafa pun diganti menjadi "Warung Shodaqoh". Alhamdulillah, ternyata pergantian nama ini memberi efek yang positif. Respon masyarakat bertambah.

Namun, halangan tak berhenti disitu saja. Berbagai pandangan negatif ternyata kerap mengiringi perjalanan “Warung Shodaqoh”. Anggapan bahwa warung ini didanai oleh ormas atau parpol tertentu sampai anggapan bahwa warung ini hanyalah salah satu siasat promosi tertentu. Seperti pepatah berkata, anjing menggonggong kafilah berlalu. Inilah yang pemilik. lakukan. Tak menghiraukan suara mring di sekitarnya, beliau tetap dengan fokus menjalankan “Warung Shodaqoh”.

Pak Amin dan istri akan menjadikan “Warung Shodaqoh” sebagai tempat mengaji dan menghafal Quran. Saat ini, “Warung Shodaqoh” hanya beroperasi di hari Jumat saja, sehingga di hari lain belum termanfaatkan dengan baik.

Recananya, Pak Amin dan istri akan menghadirkan ustadz atau seorang hafidz untuk mengajarkan anak-anak kurang mampu di sekitar warung. Pak Amin dan istri juga ingin menyediakan les bimbingan belajar gratis bagi anak-anak yang membutuhkan.

“Terima kasih sudah dikunjungi. Semoga warung kecil kami ini bisa berkah dan memberikan manfaat buat banyak pihak. Semoga bisa berkembang lebih besar jadi manfaatnya juga bisa lebih besar,” tutur istri Pak Amin sambil tersenyum haru.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..