Arsip Berita | September 2016
Habis Gelap Terbitlah Terang

  29 September 2016    623

 

"Saat itu, lagi tidur di kamar atas. Kemudian terbangun karena terdengar suara genting jatuh di luar dan segera keluar kamar," ujar Syahreza Alganniya (14), mengingat kembali peristiwa mencekam yang menimpanya.

Ia terpaku, melihat api sudah menyebar di dalam rumahnya dan asap pun sudah tak terbendung lagi. Si jago merah melahap rumah keluarganya pada malam hari, tepatnya 18 Februari lalu pukul 11 malam. Reza tertunduk, mengingat kembali ibunda dan adik tercinta wafat akibat luka bakar malam itu.

Tanpa disadari, lanjut ia, Reza mengambil selimut untuk pelindung dan meloncati beberapa anak tangga. Secepatnya, ia mencari orang tua dan adik-adiknya. "Mama minta Reza untuk menyelatmakan adik paling kecil, karena sudah mengalami banyak luka bakar."

Ayahandanya pun langsung mengantar mereka ke rumah sakit. Namun, Allah berkehendak lain. Adik terkecil Reza wafat setelah beberapa saat tiba dan ibundanya mengusul.

Ia menceritakan, Reza hanya bisa duduk terdiam, mencoba terbangun karena itu semua bagaikan mimpi. Tapi, waktu dengan cepat menyadarkan Reza. "Asstagfirllah, semua benar terjadi dan hanya bisa terdiam menangis," ungkapnya.

Reza terdiam beberapa saat dan berkata," Mamah pernah bercerita, ingin melihat Reza menjadi penghafal Alqur'an. Dan, menjadi kakak yang menjaga adik-adiknya."

Patang menyerah, semangat, dan lakukan yang terbaik menjadi hafidz dan kakak, adalah kata-kata terakhir ibunda Reza yang dipesankan kepada Reza. Ia pun teringat dengan surah Al-Baqarah [2] : 286 "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."

"Ya, peristiwa itu terjadi atas izin. Dan, InsyaAllah Reza bisa melaluinya atas izin Allah juga," katanya perlahan.

Sejak saat itu, menjadi penghafal Alqur'an semakin tertanam di dalam dirinya. Kini, Reza tengah fokus menjadi santri Pondok Pesantren Takhasus Daarul Qur'an Cinagara, Bogor. Bahkan, telah menghafal 4 juz. Ia bersungguh-sungguh mengkhatamkan hafalannya selama satu tahun.

Ia mengakui, saat malas menyambanginya, Reza selalu mengingat kembali impian sang ibu, ayah yang selalu ada untuknya dan adik satu-satu yang harus ia jaga. Kemudian, berwudhu, shalat dua rakaat dan berdoa agar dimudahkan menghafal.

"Mah ... Alhamdulillah, sekarang Reza sudah bisa mengahafal lebih baik dari sebelumnya. InsyaAllah, Reza bisa jadi penghafal Alqur'an dan menjaga adik, mamah tak perlu khawatir," tutur Reza untuk almarhumah ibundanya dengan mata yang perlahan memerah dan berair.

Pembina Pondok Pesantren Takhasus, ustad Dedi Efendi, Lc menyampaikan salut dengan semangat Reza dalam menghafal. Bahkan, apabila sulit menghafal Reza akan datang kepadanya dan meminta arahan.

"Melihat kegigihannya, seperti tidak ada hambatan apapun yang bisa menghalanginya. Padahal, saat pertama kali datang, masih banyak yang harus diperbaiki olehnya," tutur ustad yang telah 3 tahun membina santri tahfidz ini.

Namun, tambah ia, hanya dalam waktu satu bulan Reza mampu memperbaiki bacaan. Bahkan, mengejar ketertinggalan dengan santri lainnya. Tak hanya itu, meskipun usianya terbilang muda, tetapi ia sudah memiliki kedewasaan, kemandirian bahkan rasa tanggung jawab yang penuh.

"Peristiswa yang dialaminya pun tak pernah ia ungkit. Tapi, saya melihat peristiwa itulah yang mendorongnya menjadi saat ini," ujarnya.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..