Arsip Berita | Agustus 2016
Aku Ingin Selalu Bersama Alqur'an

  31 Agustus 2016    1,222

Menilik perkembangan anak-anak remaja sekarang ini, memang tidak pernah lepas dari pengaruh dunia luar, khususnya barat. Fasilitas-fasilitas game, gadget, internet, sosialita, seolah menjadi vitamin elektronik yang menjadi candu. Pada era kini yang kerap disebut era globalisasi, merupakan pr bagi para orang tua demi menyiapkan pendidikan terbaik bagi putra-putri mereka.


Disaat anak-anak diluar sana dimanjakan oleh kecanggihan elektronik, ada sekolompok anak-anak yang lebih memilih untuk mengabdikan dirinya menjaga kalam Ilahi. Bertepat di Pondok Pesantren Daarul Qur’an Cikaranglah, Nila Wulandari dan ke 54 anak lainnya yang mendapat beasiswa takhasus  mengenyam pedidikan ilmu Alqur’an.


Takhasus merupakan salah satu program beasiswa pendidikan yang dikhususkan untuk menghafal Alqur’an. Beasiswa program ini memang diperuntukan bagi yatim, dhuafa atau anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu, namun memilki kemampuan membaca dan menghafal Alqur’an.


Dengan nada suaranya yang riang, remaja berusia 15 tahun ini menceritakan perjalanannya hingga mendapat beasiswa di program ini. Keluarganya sendiri menginginkan ia belajra di pondok pesantren, namun sayang, keinginan itu harus terurung karena masalah biaya. ketika belajar di Rumah Tahfidz Abdul Halim, Probolinggo, ia mendapat kabar mengenai program beasiswa takhasus dan mencoba mendaftar.


“Ingin bisa fokus menghafal Akqur’an,” jawab Nila saat ditanya motivasinya menghafal alqur’an.


Alhamdulillah, Nila pun lolos seleksi pada September lalu. Menurut penuturan ustadzah pengasuhnya, Umi, Nila merupakan salah satu anak yang istimewa. Pasalnya, ia mampu menghafal Alqur’an hingga tujuh lembar perharinya.


“Nila itu tidak pernah lepas dari Alqur’an. Setiap hari, setiap waktunya selalu ia pergunakan untuk mengaji,” ungkapnya.


Jika kita mendatangi pondok tempat Nila belajar, lanjutnya, pasti kita akan mendengar suara orang mengaji, dan itu sudah bisa dipastikan suara Nila.


Semakin hari impiannya semakin tumbuh. Bak padi yang selalu dipupuk, impiannya ia semai dengan terus menambah hafalannya. Kini, genap sudah 30 juz hafalannya. Mimpinya bukan lagi sekedar menjadi guru agama. Mesir menjadi negara impiannya mengkaji ilmu selanjutnya.


“Nila berharap, semoga dengan hafalan yang nila punya, bisa membawa nila mendapat beasiswa kuliah di Al-Azhar,” cetus Nila dengan malu-malu.


Tak lupa pula, Nila pun membocorkan caranya menghafal hingga bisa mencapai tujuh lembar perharinya. Di halaman yang akan ia hafal, setidaknya ia akan membacanya minimal tiga kali sebelum mulai menghafal. Setelah selesai dibaca, pada ayat pertama ia akan mengulang ayat tersebut hingga hafal. Setelah ayat pertama dihafal, barulah kemudian melanjutkan ayat berikutnya.

Jika ayat berikutnya telah melekat dalam memorinya, kemudian diulang kembali dari ayat pertama di lanjut ayat berikutnya. Terus saja diulang-ulang hingga satu lembar tersebut berhasil dihafalnya.


Seperti yang acap kali ustad Yusuf Mansur katakan, ‘kalau kita ngurusin urusan Allah, maka Allah akan ngurusin urusan kita.’ Tampaknya inilah yang menjadi acuan Nila dalam menggapai mimpinya.


Khatam menghafal 30 juz dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, bukan berarti selesai sudah semuanya. Ada tanggung jawab yang lebih besar menantinya dan para ustadzah pembimbingnya. Yakni menjaga hafalan agar tetap melekat erat dikepala. Hal itu pula lah yang menjadi harapan bagi para pembimbing.


Nila sendiri mengakui, tugasnya selanjutnya ialah muraja’ah hafalan agar tidak lupa.


Diain pihak, salah seorang pembimbingnya pun menguraikan harapan agar para santri selesai menghafal dengan hafalan yang mutqin.


“Kami berharap, seluruh santri disini bisa lulus dengan menyelesaikan hafalan yang mutqin,” ungkapnya.


Di program takhasus sendiri, selain belajar Alqur’an dan menghafal, anak-anak diberikan materi seperti fiqih, tauhid, bahasa arab, dan lain sebagainya.

Photo lainnya dalam Berita ini ..




Berita terakhir lainnya pada periode ini ..