Arsip Berita | Desember 2016
Bukan Sekedar Mengajar (Part 1)

  31 Desember 2016    765

 

"Memangnya bisa, Abi Irsyad mengajar ngaji, orangnya galak gitu. Orang mengajar itu tidak boleh galak-galak," kenang seorang pria yang kini disapa akrab Abi oleh para santrinya.

Pemilik nama Rosihan Anwar (37) ini mengatakan, masih teringat jelas apa yang dilontarkan seseorang di lingkungannya itu, saat ia memutuskan untuk mendirikan Rumah Tahfidz. Tapi, keyakinan Anwar untuk mendidik anak-anak dengan Alqur'an sangat besar. Hambatan seperti itu tidak membuatnya mudah menyerah begitu saja.

Alhamdulillah, atas izin Allah dan kecintaannya dengan Alqur'an, resmilah kegiatan Rumah Tahfizh Irsyadul Athfal dan Tarbiyyatul Islamiyah sejak 2014 silam. Berdiri di Perumahan Griya Bukti Jaya, Blok M17 No.10 dan Blok M18 no 36 Rt.04/30, Gunung Putri, Bogor.

Baginya, rumah tahfidz itu adalah berkah dan kebahagiaan yang luar biasa. Kini, ia bersama istri dan diperbantukan oleh dua assatizh dan assatizah mendidik lebih dari 170 anak. Baik, dari usia sekolah dasar, hingga sekolah menengah atas. Tak tertinggal pula, jadwal untuk pemuda-pemudi maupun ibu-ibu rumah tangga. Bahkan, tak ragu meninggal karir yang tengah menanjak saat itu.

Pria berkacamata ini mengenang kembali 2009 lalu, saat pertama kali tiba di Gunung Putri. "Saya hijrah ke daerah sini, setelah saya mengalami kebangkrutan di Garut. Kemudian, bekerja di daerah sini," ujar Anwar dengan senyuman ramah di wajahnya.

Tak hanya bekerja, ia pun aktif mengikuti berbagai kegiatan di masjid sekitar. Ia menceritakan, suatu saat ia mendengar bacaan Alqur’an anak-anak sekitar. Namun, ia hanya bisa terdiam dan bersedih. “Ya Allah, minim dan jauh dari bacaan yang baik dan benar. Padahal, Nampak mereka begitu semangat membacanya,” benaknya.

Sejak saat itu, keinginan untuk membantu membetulkan bacaan Alqur’an anak-anak di sana mulai tumbuh. Sayangnya, ia tak tahu bagaimana memulainya, mengingat ia adalah orang baru di lingkungan itu. Ayah dua orang anak ini yakin, Allah Ta’ala akan menyediakan jalan baginya. Meskipun, entah kapan dan bagaimana caranya.

Alhamdulillah, tanpa diduganya jalan itu hadir pada 2010 lalu, saat ia membuka warnet di rumahnya. Berawal untuk menambah rezeki dari usahanya itu. Tapi, yang ada membawa ia mewujudkan harapannya untuk membantu ngaji anak-anak.

Masih tergambar jelas dalam ingatannya bagaimana hal itu bisa terjadi. Ia menceritakan, pada awalnya usaha tersebut lancer. Namun, setelah melihat realita yang terjadi, justru kekhawatiran yang mencuat dalam hatinya. Mayoritas pelanggannya adalah anak-anak yang lebih banyak bermain game, dibanding target awalnya untuk pendidikan. Bahkan, meninggalkan waktu shalat, apalagi mengaji.



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..