Arsip Berita | April 2013
Beasiswa Menembus Ketapang dan Cikarang

  29 April 2013    10,947

‘’Alhamdulillah,’’ seru Syifa Sholehah (13), mendengar kabar gembira dari Guru Tahfidz-nya, Ustadz M Muslihan Bashri. Kata Ustadz, Syifa meraih rangking keenam dalam seleksi calon penerima BASIQ (Beasiswa Santri Qur’an) PPPA Daarul Qur’an. Dengan demikian, mulai tahun ini Syifa bakal nyantri gratis di Ponpes Tahfidz Daarul Qur’an Putri Cikarang, Jawa Barat. Syifa Sholehah, santri Rumah Tahfidz Al Azmy Desa Rawakalong, Kec Gunungsindur, Bogor, Jawa Barat, sungguh layak bergembira. Betapa tidak. Ia sempat pesimis dapat mengikuti seleksi BASIQ. Bukan lantaran belum memiliki hafalan 2 Juz Qur’an, namun karena berat memenuhi persyaratan administrasi.

‘’Aduh, boro-boro KK, KTP aja saya belum punya. Saya kan pendatang baru di sini,’’ keluh Supriyatna, ayah Syifa, ketika diminta menyiapkan foto copy Kartu Keluarga atau Kartu Tanda Penduduk. Maka, dia pun gagal mendapat surat keterangan dhuafa dari kelurahan. Dengan jaminan Ny Nurbaiti Rohmah, pengelola Rumah Tahfidz Al Azmy, Supriyatna kemudian mendapat surat keterangan yang dibutuhkan. Tapi, persoalan belum selesai sampai di situ. Orangtua Syifa lagi-lagi keberatan jika harus mengantar anaknya selepas subuh ke lokasi seleksi, Sabtu, 11 Mei 2013.

‘’Waduh, gimana yak, saya belum pernah ke Daarul Qur’an. Lagian saya nggak punya SIM kalau nganter pakai motor,’’ ujar Supriyatna yang sehari-hari penjual gorengan, sambil nyengir. Ny Nurbaiti lalu meminta Khoeruddin, ayah dari Irma yang teman Syifa, untuk mengantarkan ke Daarul Qur’an. Alhamdulillah, Khoeruddin yang sebelumnya pernah ke Daarul Qur’an Ketapang, tak keberatan. Syifa pun dapat mengikuti seleksi BASIQ, dan hasilnya cukup memuaskan. Syifa salah satu dari 75 Santri Tahfidz peserta seleksi BASIQ. Menurut Nanang Ismuhartoyo, Manager Program PPPA Daarul Qur’an, para peserta berlatar belakang pendidikan tingkat SD hingga SMA, baik putra maupun putri dari kalangan yatim dan dhuafa.

‘’Para peserta wajib memiliki hafalan minimal 2 Juz,’’ ujar Nanang, sambil menambahkan bahwa mereka berasal dari seluruh Rumah Tahfidz di Indonesia. Di antaranya Sutrisno Hafidz Panggala. Penghafal 25 Juz ini, jauh-jauh datang dari Makassar ingin melanjutkan pendidikan SMA-nya di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang.

‘’Saya sudah lama mendengar nama Pesantren Daarul Qur’an Ketapang. Saya juga ngefans sama Ustadz Yusuf Mansur,’’ ucap Nanang menirukan alasan Sutrisno mengikuti seleksi. Khaerunnisa dari Pematang Kambat, pedalaman Kalimantan Tengah, juga pantang menyerah. Tahun lalu, jumlah hafalannya belum mencukupi untuk lolos dalam seleksi masuk ke Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Putri jenjang SMP di Cikarang. Lalu, ia memutuskan jadi santri di Rumah Tahfidz Daarul Qur’an Ciledug untuk memenuhi syarat. Tahun ini, dengan hafalan 7 Juz, Nisa pede bakal lolos seleksi.

Optimisme serupa juga dirasakan Hafidz Artha Widjan dari Serang. Peserta seleksi tercilik dengan usia baru 9 tahun ini sudah menghafal 8 Juz Qur’an. Nanang menjelaskan, peserta putra yang lolos seleksi akan ditempatkan di Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Ketapang, Tangerang, Banten. Sedang yang putri di Cikarang, Jawa Barat. ‘’Mereka mendapat beasiswa penuh setiap tahun, asalkan memenuhi target hafalan 5 Juz dalam 1 tahunnya,’’ terang Nanang.

Program BASIQ Daarul Qur’an dibuka setiap tahun. Bahkan mulai tahun ini, BASIQ juga diselenggarakan untuk menjaring calon santri Pesantren Tahfidz Daarul Qur’an Semarang dan Lampung.

Pembibitan kader generasi Qur’ani tersebut, dapat terus berjalan dan berkembang dengan dukungan Anda semua, para donatur PPPA Daarul Qur’an. Insya Allah, pahala dari setiap huruf Al Qur’an yang dibaca dan dihafal para santri BASIQ, juga menjadi pahala buat Anda. (kinank/bowo)



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..