Arsip Berita | Januari 2012
Menyiapkan Kampung Quran OeUe di Pedalaman NTT

  31 Januari 2012    1,302

Peristiwa bersejarah itu, menurut Arifin Nobisa, salah seorang punggawa Raja Soe yang masih hidup, terjadi sekitar tahun 1967. Arifin Nobisa sendiri, satu-satunya yang masuk Islam dari desa itu, kemudian diikuti para pengikutnya.

Konon, Raja Soe mengislamkan diri di Kupang yang ditempuh dengan naik kuda. Waktu tempuh saat ini, dengan mobil dari OeUe ke Kupang jika tidak hujan perlu 6 jam. Sejak memeluk Islam, tidak ada pembinaan dakwah di OeUe, sampai akhirnya Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) mengirimkan dai pada 1990 an.

Kini antusias warga di OeUe untuk masuk Islam makin meningkat. Tapi, bagi Ustad Syarifudin Ridwan Nobisa dan Zulkarnain Arifin Nobisa, ketertarikan mereka harus diperkuat dengan dakwah sosial melalui penampilan akhlak yang baik untuk memperkokoh akidah.

Dua dai asli OeUe yang mengenyam pendidikan tinggi di Cirebon dan Bandung itu, memutuskan kembali ke desanya untuk mengembangkan dakwah, mendampingi masyarakat dan membangun desa.

Bersama PPPA Daarul Quran, awal tahun ini mulai dirancang pengembangan kawasan Kampung Quran OeUe. Yakni, program pembangunan desa religius berbasis penghafal Al-Quran di pedalaman dan desa-desa terpencil. Salah satu program yang sedang berjalan adalah Kampung Quran Merapi. Seperti halnya di Merapi, di Kampung Quran Oeue juga akan dimulai dengan pembangunan sosial melalui pengadaan hunian sehat Rumah Quran.

Sebagian besar warga Oeue, saat ini masih tinggal di rumah Ume Kubu. Rumah bulat beratap ilalang, tanpa jendela, yang jadi tempat tinggal sekaligus lumbung menyimpan makanan. Sebelum mereka muslim, di dalam rumah Ume Kububu itu juga bercampur dengan babi dan anjing. Tak hanya masalah hunian, di kawasan itu, juga daerah sulit air dan selalu paceklik tiap musim kemarau datang.

Meski sudah jadi muslim, mereka amat kurang dalam pemahaman Islam. Di dalam rumah bulat yang sempit itu, tidur mereka masih campur dalam keluarga besar. Setelah diskusi panjang dengan warga OeUe, dicapai kesepakatan untuk menuju hidup sehat secara nilai-nilai Islam dan jasmani. Maka setelah pembangunan Rumah Quran yang dikombinasi dengan rumah asli, peran rumah Ume Kubu akan difungsikan sebagai dapur dan lumbung saja.

Di dalam Rumah Quran, akan diterapkan tradisi mengaji untuk anak-anak mereka dan pendampingan cara beribadah bagi para orang tuanya. Masjid An Nuur yang ada di desa itu, akan jadi sentral pendidikan membaca Al-Quran. Setelah anak-anak bisa baca Al-Quran, mereka akan dikirim ke Rumah Tahfidz di Kupang yang akan dikelola Ustad Muhammad Romli dari Dewan Dakwah.

Tak hanya menuju tahfidz saja, mereka juga mendapatkan pendidikan formal hingga jenjang perguruan tinggi. Satu hal yang menggembirakan dari masyarakat OeUe meski di pedalaman adalah, kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan sangat tinggi. Putra desa yang lulus sarjana di Jawa seperti Syarifudin juga memilih kembali ke desanya.

Ini, jadi harapan yang memudahkan untuk mendorong pembangunan kampung muslim di OeUe, jadi kawasan religius yang menjadikan aklak sebagai sarana dakwah. Sebagai sebuah ikhtiar, dalam satu tahun kedepan, semoga Kampung Quran Oeue bisa kita wujudkan.

Tentu atas dukungan Anda semua. Insya Allah

http://pppa.or.id/daqu/gallery/category/23-rt-oeue



Berita terakhir lainnya pada periode ini ..