Testimoni Sedekah

Suprianto - Sedekah di Balik Botol

  6,570


“Saya ini cuma wirausahawan botol bobol,”ucap Suprianto (41) merendah. Bukan, dia bukan juragan pengepul barang apkir macam botol bolong.

“Maksudnya, berani optimis (dengan) tenaga orang lain dan berani optimis (dengan) bisnis orang lain,” lanjut pemilik 3 bidang usaha di Jakarta ini sambil tersenyum. Suprianto yang kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, mengungkapkan, ilmu bisnisnya ia peroleh dari kuliah di Entrepreneur University (EU).

Purdi E Chandra, pengasuh EU, yang mengajarinya konsep bisnis botol dan bobol. Pendiri rimagama, jaringan lembaga kursus terbesar di Indonesia, itu pun mengenalkan Suprianto pada konsep bodol (berani, optimis, duit orang lain).

Maknanya, berbisnis dengan modal dari pihak lain. “Alhamdulillah, dengan konsep botol, saya punya bisnis konsultan manajemen dan mengelola usaha bakery. Lalu dengan konsep bobol, saya punya sekolah TK & Playgroup Primagama,” terang suami Eka Yanti.

Bagaimana bisa seorang berlatar accounting macam Suprianto memiliki bisnis di 3 bidang berbeda yang tak sesuai background akademiknya? Alkisah, setelah 16 tahun bekerja di perusahaan Grup Astra sebagai akuntan, pada akhir 2006 Suprianto mengundurkan diri dari perusahaannya untuk wirausaha. Ia ingin punya usaha mandiri.

Setelah resign, Suprianto bekerja fulltime di perusahaan konsultasi manajemen yang dikelola bersama temannya. Konsultan yang elayani klien instasi swasta maupun pemerintah, itu berkantor di kawasan Mampang, Jakarta Selatan.

Namun baru 4 bulan jadi pengusaha, Suprianto mendapat cobaan berat. Suatu hari, dalam perjalanan ke Bogor, entah mengapa tubuhnya merasa panas. “Bukan panas biasa, tapi pokoknya badan terasa tidak enak sekali,” kenang Suprianto.

Sempat dirawat selama 4 hari di sebuah rumah sakit, kondisi lelaki itu tak jua membaik. Bahkan ia merasa seperti orang kesurupan. Padahal, berbagai terapi medis dan obat jalan sudah dicobanya. Maka dengan didampingi istrinya, Suprianto mulai kesana-kemari mencari pengobatan alternatif.

Suatu hari, setelah sekian lama klik-klik browsing internet, Suprianto seperti menemukan obat mujarab yang tengah diburunya. “Sedekah dapat menyembuhkan penyakit,” demikian salah satu syiar Ustadz Yusuf Mansur yang disimaknya di laman PPPA Daarul Qur\'an.

Bersama Eka Yanti, Suprianto lalu berkunjung ke Kampung Qur\'an di Ketapang, Cipondoh, Tangerang. Di sana ia dilayani Ustadz Abdoel Rochimi, salah satu konselor PPPA Daqu. Dari kunjungan itu, Suprianto mulai mendawamkan riyadhoh dan sedekah untuk menghajatkan kesembuhan dirinya.

“Selain mengamalkan ibadah-ibadah di rumah, saya juga ikut kuliah dhuha dan pesantren riyadhoh di Ponpes Daqu Bulak Santri Tangerang,” tutur Suprianto. Dengan dorongan sang istri, dia pun mulai ringan tangan menyedekahkan sebagian tabungannya.

Baik untuk disalurkan melalui program PPPA Daqu maupun berbagi di daerah sekitar tempat tinggalnya di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Alhamdulillah, dengan menjalani riyadhoh dan sedekah, memasuki tahun 2009 Suprianto berangsur sembuh. Usahanya pun mulai recovery.

Pada 2011, Suprianto mengajak seorang baker (ahli bakery), untuk membuka Sanaya Bakery and Cake di Jalan Moch Kahfi 1 no 27D Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan “Insya Allah saya sedang mempersiapkan Sanaya Bakery and Cake untuk di-franchise-kan,” kata Suprianto, yang kadang mengirim produknya untuk makan para santri Penghafal Qur\'an di Kampung Qur\'an Ketapang. (Bowo)


Testimoni lainnya ..



Arsip Testimoni