Berita Cabang Jogjakarta
Berita Terkini
 
 
Berita Sebelumnya ..
 
 
Ingin mendapatkan info terbaru tentang Berita dan kegiatan
PPPA DAQU?

Silahkan Add Pin BB ini ..

Setiap Manusia Dimodali Rp 60 M

Berita dari PPPA Cabang Bogor

Updated ( 2014-04-14 00:00:00 )
Read Total ( 273 )

Share on Facebook
 
" Kini, saya punya dua Mercy. Yang satu, yang di rumah, adalah Mercy S500 tahun 2005 yang dibeli dengan harga Rp 3 Milyar. Satunya lagi "Mercy" di kulit perut saya (maksudnya bekas sayatan pisau operasi). Jelek , tidak tahu seri berapa, tapi kira-kira sama harganya.."

Kalimat Dahlan Iskan dalam buku Ganti Hati itulah yang membuat Basri Adhi berkesimpulan bahwa manusia harus memulai usaha dengan modal syukur.

Untuk operasi transplantasi hati di China, Bos Grup Jawa Pos menghabiskan Rp 3 Milyar; Rp 1 Milyar untuk biaya akomodasi operasi dan Rp 2 Milyar untuk "membeli" hati sehat milik seorang pemuda China setempat.

Maka bayangkan, sepotong hati sehat harganya adalah Rp 2 Milyar. Saat pertama membaca buku ini, Basri langsung sibuk browsing di internet, dan ternyata memang benar: bila kita meninggal - saat usia jasad kita tak lebih dari 10 jam- dan organ tubuh kita "dipretelin", black market siap membeli "organ pretelan" itu seharga Rp 6 Milyar. Wow.

Jadi, secara sederhana, kalau kita meninggal (dengan catatan tadi, usia jasadnya tak lebih dari 10 jam) "harga" kita adalah Rp 6 Milyar, berapa "harga" kita yang hidup ? Katakan "harga" saat kita hidup adalah 10 kali lipatnya, artinya Rp 6 Milyar.

''Subhanallah, itu artinya Allah SWT, sudah memberi kita "modal" dari sejak kita lahir, minimal 60 Milyar,'' kata Basri Adhi dalam Dialog Buku Kun Fayakuun for Business di Gedung Global Halal Center Bogor, Rabu siang, 9 April 2014.

Dialog diselenggarakan PPPA Daarul Qur'an kerjasama dengan LPPOM MUI, Misterblek Coffee, Resto Hefchick, dan Forum Silaturahim Mantan Aktivis Lembaga Dakwah Kampus.

Selain pemilik Misterblek Coffee Basri Adhi, Dialog juga menghadirkan pembicara pengelola Resto Hefchick Kusnadi dan Wakil Direktur LPPOM MUI Sumunar Jati.

Basri, salah satu tokoh dalam buku yang disusun Tim PPPA Daarul Qur'an dan diterbitkan Penerbit Syamil Bandung, itu memaparkan, manusia sudah dimodali Allah SWT sebagai ''investor'' senilai Rp 60 Milyar. Maka, dengan perhitungan produktivitas dan profitabilitas ROI (Return on Investment) sebesar 5% saja, minimal kita harus menghasilkan Rp 3 Milyar per tahun atau Rp 250 juta per bulan.

''Tapi, Allah SWT tak pernah hitung-hitungan soal investasi ini pada kita. Malah banyak dari kita menolak bersyukur, dengan tak mau bekerja keras, bekerja cerdas menghasilkan Rp 250juta/bulan,'' Basri menyayangkan.

Padahal, menurut Sahmullah Rivqi, pendiri sekaligus Presiden Direktur Greenleaf School of Entrepreneur, menyebut bahwa secara horizontal (hubungan dengan sesama manusia), orang yang merasa "cukup" dengan penghasilannya, bisa dibilang ''egois''. Kenapa?

''Karena berarti kita hanya memikirkan kepentingan diri dan keluarga kita saja. Sehingga kalaupun bisa berinfaq, ala kadarnya saja. Seandainya kita mau memikirkan kepentingan keluarga lainnya, baik keluarga sedarah maupun keluarga seiman yang dhuafa dan membutuhkan bantuan finansial, maka kita tidak akan pernah merasa cukup meskipun penghasilan kita Rp 1 Milyar perbulan!'' papar Rivqi.

Ia mengingatkan, penghasilan Rp 5 juta atau 10 juta mungkin cukup untuk makan kita dan keluarga, pendidikan anak, cicilan rumah, mobil, zakat/infaq dan sedikit tabungan. Ya, cukup memang jika kita hanya memikirkan diri dan keluarga kita saja.

''Tapi kita harus berusaha mendapatkan lebih banyak lagi. Bukan kita tidak bersyukur, bukan kita serakah. Tetapi justru karena terlalu banyak umat Islam yang harus dibantu secara finansial. Maka sebanyak-banyaknya uang harus kita hasilkan dan sebanyak-banyaknya orang harus menikmati manfaat dari yang kita hasilkan,'' tutur Rivqi di laman website-nya.

Dengan falsafah "Berbisnis dengan Modal Syukur", Basri Adhi yang merintis kariernya sebagai Sales Executive Republika pada 1994, menuturkan, kita tak hanya mensedekahkan harta kita saja, namun seluruh semangat, ilmu, dan pengalaman agar ummat bisa menjadi lebih produktif dan berguna bagi lingkungannya.

''Saya sendiri mungkin belum sampai menghasilkan Rp 250juta/bulan, tapi ide usaha ini mungkin sudah memberikan dampak lebih dari sekedar Rp 250juta/bulan. Maka Bismillah, tak ada lagi alasan mau mulai usaha tapi tak punya modal, karena kita harus Berbisnis dengan Modal Syukur," ujar Basri Adhi yang banting stir menjadi pengusaha saat berada di puncak kariernya sebagai General Manager Marketing sebuah koran nasional.

Sebagaimana Basri, Kusnadi juga berusaha menerapkan spirit dan ajaran Islam dalam usahanya. Ia mengemukakan, usaha seorang Muslim haruslah menghadirkan keberkahan, selain mengejar kelanggengan, keuntungan, dan pertumbuhan.

 
 
 
www.daqu.or.id