Berita Cabang Jogjakarta
Berita Terkini
 
 
Berita Sebelumnya ..
 
 
Ingin mendapatkan info terbaru tentang Berita dan kegiatan
PPPA DAQU?

Silahkan Add Pin BB ini ..

Bertahan dari Garangnya Kemarau di Blora

Berita dari PPPA Cabang Semarang

Updated ( 2015-08-20 00:00:00 )
Read Total ( 1231 )

Share on Facebook
 
"Sudah lama kami tidak merasakan basahnya air hujan dan segarnya limpahan air. Terakhir kali, lima bulan yang lalu," ujar Redi, pria 45 tahun asli kelahiran Blora.

Hal itu tak hanya terjadi di Blora saja melainkan di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Musim kemarau panjang dan panas yang ekstrem membuat daratan yang memiliki suhu tinggi, kekeringan tiada bersisa air sedikit pun.

Lahan sawah, perkebunan hingga hewan ternak menjadi saksi kegarangan musim kemarau tahun ini. Meskipun, kemarau sudah menjadi santapan setiap tahunnnya bagi Indonesia, tetapi 2015 adalah yang terparah. Sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika mengatakan, kekeringan ekstrem ini merupakan dampak El Nino yang terjadi pada Juni hingga November 2015.

Redi mengatakan, tahun ini panen hanya satu kali saja. Baik, padi, palawija hingga jagung, karena tidak ada air yang mengalir ke lahan tani mereka. Kini, semua hasil panen itu telah habis di jual dan di konsumsi sendiri. Dan, yang tersisa hanya debu tebal, angin panas serta lahan hijau yang menjadi gersang dan retak tak berkira.

Hal ini juga berdampak besar pada kehidupan sehari-hari ribuan warga di sana. "Syukur-syukur kita masih bisa makan satu kali sehari. Sungguh, air segalanya bagi kami, sumber kehidupan bagi kami," ungkapnya.

Satu hal yang mengejutkan, saat ia mengatakan, kekeringan yang parah ini memaksa sapi-sapi, memakan anak-anaknya sendiri untuk bertahan hidup. Mengingat, tidak ada air mengalir di lahan hijau mereka.

Bahkan, air yang dikonsumsi oleh hewan ternak warga adalah air bekas yang telah digunakan oleh warga untuk mandi. "Kami mandi dengan beralaskan bak, sehingga airnya tidak terbuang dan bisa digunakan untuk minum ternak. Inilah kehidupan sehari-hari kami, sepanjang kemarau ini," jelasnya, sambil tertunduk.

Selama ini, warga mencari air sejak pukul 03.00 pagi dan itu pun hanya bisa mendapatkan satu drigen air setelah beberapa lama mengantri. Sebelumnya, ia mengakui, sempat ada bantuan pemerintah yang datang. Namun, tidak mencukupi dan tidak semua warga mendapatkan air.

Alhamdulillah, lanjut ia, karena izin Allah, PPPA Daarul Qur'an datang ke desanya. Di waktu yang bersamaan, 12 ribu liter air tengah di distribusikan di desanya. "Do'a kami terkabulkan atas izin Allah. Terima kasih, PPPA Daarul Qur'an dan para donaturnya," ujarnya.

Meskipun hanya beberapa hari. Tapi, beberapa hari itu warga desa bisa beristirahat, karena tidak perlu berjalan jauh untuk mencari air sejak dini hari. Ia mengungkapkan, beberapa hari ini adalah berkah yang tak di sangka-sangka.

 
 
 
www.daqu.or.id