Jalan Sedekah
Artikel Lain Terkini
 
 
Artikel Lain Sebelumnya ..
 
 
Ingin mendapatkan info terbaru tentang artikel_tarmizi dan kegiatan
PPPA DAQU?

Silahkan Add Pin BB ini ..

Tiga Hari Menanti untuk Masuk Gaza



Updated ( 2014-09-17 00:00:00 )
Read Total ( 1978 )

Share on Facebook
 
Maret 2014. Setelah sekitar lima jam menunggu di Bandara Kuwait, akhirnya kami terbang dan kami tiba di Bandara Internasional Cairo City jelang sore hari. Lepas dari antrian loket emigrasi dan mengurus bagasi, kami keluar dari bandara. Kami disambut oleh Mas Emran, pemandu kami selama di Mesir.

Kunjungan ke Mesir ini merupakan muhibah yang tertunda. Sudah sejak tahun lalu kami --saya, Mas Naryo, Ustadz Ahmad Jameel, dan Mas Basuno--mendapat visa dari pemerintahan Presiden Muhammad Mursi untuk dapat pergi ke Mesir dan kemudian masuk ke Gaza melalui pintu Rafah. Namun, selang 2 hari visa tersebut keluar, terjadi pergolakan politik di Negeri Fir'aun ini.

Pada Juli 2013, junta militer Mesir melakukan kudeta atas tahta Presiden Mursi. Sang presiden terpilih ditawan, dan kursinya diambil-alih oleh presiden sementara Adly Mansour. Aktivivs Ikhwanul Muslimun ditembaki, ditangkapi, dan kemudian dijatuhi hukuman mati. Organisasi legendaris Persaudaraan Islam itu sendiri kemudian dijadikan organisasi terlarang.

Mansour menyelenggarakan pemilu pada Maret 2014 yang kemudian diundur akhir Mei 2014. Jendral Abdel Fatah el-Sisi yang memutuskan menjadi calon Presiden Mesir pada Maret 2014, akhirnya menang mutlak.

Ramadhan 2013 itu, kami terpaksa mengurungkan jadwal ke Gaza untuk melakukan peletakan batu pertama pembangunan Graha Tahfidz Daarul Qur'an di Jabalia City, Gaza, Palestina. Ketidakhadiran kami ke Gaza tidak menyurutkan tekad PPPA Daarul Qur'an untuk membangun gedung ini.

Alhamdulillah, lebih dari satu tahun Graha Tahfidz Daarul Qur'an rampung dibangun, hanya menyelesaikan beberapa bagian dari bangunan yang belum selesai. Selama Graha Tahfidz dalam proses pembangunan, kegiatan belajar santri dilakukan di Masjid Umari, Jabalia City, yang merupakan Markaz Tahfidz. Sekitar 100 anak belajar di sana. Dalam proses pembangunan pun, Graha Tahfidz Daarul Qur'an pernah terendam air akibat banjir besar yang melanda Jabalia.

Jelang finishing Graha Tahfidz Daarul Qur'an, alhamdulillah akhirnya kami kesampaian datang ke sana.

Pukul 03.00 dini hari waktu setempat, kami bertolak dari Mesir menuju Elaris yang membutuhkan waktu sekitar 6 jam. Begitu keluar dari tempat penginapan, kami sudah harus berurusan dengan tentara Mesir. Kami diperiksa ketat; Barang bawaan, bagasi mobil tak luput dari penggeledahan. Demikian juga pada setiap pos penjagaan yang kita lewati, kami harus berhenti untuk digeledah. Bayangkan, menuju Elaris kami harus melewati 6 pos penjagaan, ditambah 2 pos lagi menuju gerbang Rafah.

Setelah menyeberangi Terusan Suez, lalu melewati jalan panjang Salahuddin Al Ayubi, kami tiba di kota Elaris. Di sana kami bertemu dengan Abdullah, warga setempat yang akan mengantarkan kami di pintu Rafah. Setelah bertukar kendaraan, pagi itu kami meluncur ke pintu Rafah. Sebelum sampai ke pos penjagaan pertama, Abdullah bersama kawannya memutar arah mobil untuk mengambil jalan alternatif guna menghindari pos itu.

Setibanya di pos penjagaan 2, setelah berdialog dengan tentara yang bersiaga di sana, kami harus gagal untuk masuk ke Gaza. Hari kedua dan ketiga kami coba masuk lagi, namun tetap gagal.

Bukan hanya kami, banyak NGO dan lembaga kemanusiaan lain yang gagal masuk ke Gaza. Bahkan ada yang sudah sebulan ngendon di Rafah, tak bisa tembus juga. Setelah tiga hari menunggu tanpa kepastian di Elaris yang terus dipatroli tentara Mesir siang dan malam, kami memutuskan untuk kembali ke Mesir. Dari penginapan di Kairo, kami mengatur peresmian Graha Tahfidz Daarul Qur'an usai pemilu di Mesir. Melalui twitternya @yusufmansur, Ustadz Yusuf Mansur memberitahukan bahwa beliau akan datang ke Gaza untuk meresmikan gedung yang dibangun oleh sedekah masyarakat Indonesia.

Ramadhan awal bertepatan tanggal 9 Juli 2014, roket pertama tentara agresor Israel menghantam halaman Graha Tahfidz. Sepekan kemudan 12 roket kembali menghantam. Walau tidak ada korban jiwa secara langsung, namun Graha Tahfidz yang baru saja dibuka untuk belajar santri langsung tutup lagi. Bukan itu saja, Markaz Tahfidz di Masjid Umari juga hancur diserang Israel.

Syeikh Muhammad Yaqob Sulaiman, yang sehari-harinya mengajar anak-anak menghafal Al-Qur'an di Graha Tahfidz Daarul Qur'an di Masjid Umari, turut syahid terkena serangan Zionis Israel. Rencananya, Syeikh Yaqob ini akan hadir di Indonesia, untuk memberikan motivasi dan pengajaran kepada guru rumah tahidz di seluruh Indonesia. Silaturahim beliau tertunda-tunda karena faktor keamanan, sampai kemudian beliau gugur.

Selain Syeikh Yaqob, Graha tahfidz Gaza juga kehilangan santri dan tetangganya. Hanin Hammuda (14), salah seorang santri Graha Tahfidz Daarul Qur'an Indonesia, tewas bersama ibunya Kainat Hammuda, Selasa (29/7) tengah malam. Dua adik Hanin yang masih balita juga terbunuh. Mereka terkena roket yang ditembakkan artileri Israel. bersama keluarganya tewas dalam penyerangan Isreal, Berita duka tersebut tidak menyurutkan lagkah kami untuk membantu GAZA. Insya Allah Graha Tahfidz yang dibom Israel akan kami bangun kembali. Bahkan semoga Graha ini kelak bisa menjadi Pesantren Daarul Qur'an, sehingga anak-anak Gaza dapat melanjutkan pendidikannya di sana.

Tanggal 25 Okteber ini, PPPA Daarul Qur'an akan menghelat Wisuda Akbar Indonesia Menghafal ke-5 di GBK. Semoga santri-santri Tahfidz dari Graha Tahfidz Daarul Qur'an Gaza dapat ikut hadir bersama ribuan santri tahfidz di seluruh Indonesia. Bersama kita membumikan Al-Qur'an di Indonesa dan belahan dunia lainnya. Mohon do'anya.

Wassalam

 
 
 
www.daqu.or.id