Artikel
Artikel Terkini
 
 
Artikel Sebelumnya ..
 
 
Ingin mendapatkan info terbaru tentang artikel dan kegiatan
PPPA DAQU?

Silahkan Add Pin BB ini ..

Pahala Substitusi



Updated ( 2015-06-12 00:00:00 )
Read Total ( 530 )

Share on Facebook
 
Insya Allah semua sudah mafhum, haji adalah ziarah ke Baitullah untuk melaksanakan rangkaian manasik haji pada masa tertentu (8-13 Dzulhijjah dari hari Tarwiyah sampai Ayyamut-Tasyriq) di tempat tertentu demi mengharap ridha Allah SWT. Sedangkan umrah adalah berkunjung ke Baitullah di Mekkah untuk melakukan manasik umrah di luar waktu haji, demi mencapai ridha Allah SWT.

Dari kecil kita sudah hafal, rukun Islam adalah sashozapuha - syahadat, sholat, zakat, puasa, haji. Haji adalah rukun Islam kelima yang wajib dilaksanakan pada kesempatan pertama oleh setiap muslim yang telah memenuhi syarat, sekali seumur hidup. Jika ia naik haji lagi, itu jadi keutamaan (tathawwu').

Mengingkari wajibnya haji, jelas satu bentuk kekufuran. Meyakini wajibnya haji tapi tidak melaksanakan padahal ia mampu, termasuk kaba'ir (dosa besar). Dalam ucapan Ibnu 'Abbas radhiyallahu'anhum, "matinya termasuk mati secara Yahudi dan Nashrani."

Dari qaul Ibnu 'Abbas ra: "Termasuk mati secara Yahudi dan Nashrani (beliau mengucapkannya 3x) orang yang sampai matinya tidak naik haji padahal ia mampu dan tersedia jalan untuk berangkat" (HR Baihaqi, Al Kubra (41334), At Talkhis Imam Ibnu Hajar Al Asqalani II/223).

Menunda naik haji, karena adanya udzur dan alasan lain yang tidak bisa dihindari, dibolehkan sesuai tuntutan Fiqhul Aulawiyat (fikih prioritas). Bagi yang punya udzur permanen, tapi punya niat/ kemampuan biaya untuk berangkat haji, maka dari keluarga/walinya yang sudah pernah haji boleh menjadi wakil/badal haji atau umrah dalam perjalanan yang berbeda.

Umrah alias ''haji kecil'', wajibnya juga sekali seumur hidup. Fatwa Lajnah Da'imah nomor: 8872, mengatakan: "umrah dalam Islam hukumnya wajib, sekali seumur hidup."

Haji dan umrah ibadah yang saling melengkapi. Ibnu 'Abbas ra berkata: "Umrah terhadap haji kedudukannya bagai kepala dengan tubuh atau seperti zakat bagi puasa" (Musnad Firdaus Imam Ad Dailami sebagaimana dalam Kanzul Ummal Imam Al Hindi, Juz V:114)

Tetapi, persyaratan haji lebih berat ketimbang umrah. Baik dalam aspek biaya, tenaga, maupun kesempatan. Calon jamaah haji asal Sukabumi misalnya, jika baru mendaftar haji tahun ini, maka akan berangkat 17 tahun lagi. Sedangkan waktu umrah jauh lebih leluasa, karena tidak mengenal pembatasan quota dan waiting list.

Namun jika belum mampu berhaji, raihlah pahalanya dengan umrah tertentu. Rasulullah SAW berwasiat:

"Jika Ramadhan tiba, berumrahlah saat itu karena umrah Ramadhan senilai dengan haji" (HR Bukhari no 1782 dan Muslim no 1256).

Dalam riwayat Muslim disebutkan:

"Umrah pada bulan Ramadhan senilai dengan haji" (HR Muslim no 1256).

Dalam lafazh Bukhari yang lain disebutkan:

"Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku" (HR Bukhari no 1863).

Menjelaskan maksud hadits tersebut, Imam Nawawi berkata, "Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji" (Syarh Shahih Muslim, 9:2).

Al-Munawi dalam Al-Faidh Al-Qadiir jilid 6 hal 228 menyatakan: "Makna mendapat pahala haji atau mendapat pahala seperti pahala haji, tetapi tidak harus sama persis."

Badal Haji/umrah dalam satu perjalanan yang sama juga tidak boleh, sebagaimana keputusan Fatwa Ahlul 'Ilmi berdasarkan dalil-dalil yang kuat (Al Mughni Imam Ibnu Qudamah V/19), Syarah Al 'Umdah Imam Ibnu Taimiyah I/133, 183).

Lantas, kalau kemampuan belum memungkinkan untuk berhaji maupun umrah, bagaimana?

Tenang saja. Allah Yang Maha Pemurah, mensyariatkan amal-amal yang pahalanya dapat menjadi pengganti (substitusi) pahala haji maupun umrah. Yang pertama adalah perjalanan ke masjid untuk sholat liam waktu berjamaah.

Diriwayatkan dari Abu Umamah ra, Rasulullah SAW berkata, "Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya seperti pahala haji orang berihram" (Shahih Abu Dawud, no 558).

Kemudian sholat berjamaah subuh, berdzikir, hingga terbit fajar (syuruq) dan sholat fajar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra, Rasulullah SAW berpesan, "Barangsiapa shalat subuh berjamaah lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari kemudian shalat 2 raka'at, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna" (Shahih At-Tirmidzi no 480, 586; Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no 464; Ash-Shahihah no 3403, dishahihkan Al-Albani).

Dalam hadits lain, dari Abu Umamah dan 'Utbah bin 'Abd, Rasulullah SAW mengatakan, "Barangsiapa shalat Subuh dalam sebuah masjid secara berjama'ah lalu tinggal di dalamnya hingga ia Shalat Dhuha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang haji dan umrah yang sempurna haji dan umrahnya" (Hasan li ghairihi: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib no 469).

Belajar-mengajar ilmu di masjid juga begitu. Dari Abu Umamah, Nabi SAW berpesan, "Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala orang haji sempurna hajinya."

Dalam riwayat lain dengan redaksi: "Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan umrah yang sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang sempurna"(Hasan Shahih: Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib no 82).

Sholat fardh berjamaah dan dhuha juga pahalanya senilai pahala haji-umrah. Dari Abu Umamah, Rasulullah SAW mengatakan, "Barangsiapa berjalan menuju berjama'ah sholat wajib, maka dia seperti berhaji. Dan barang siapa berjalan menuju shalat tathawwu'(sunnah) maka dia seperti berumrah yang nafilah (sunnah)" (Hasan: Shahih Al-Jami' no 6556).

Dalam hadits lainnya, Rasulullah SAW berkata, "Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan sudah bersuci untuk shalat fardhu maka pahalanya seperti pahala orang haji yang berihram; Dan barangsiapa keluar shalat Dhuha dia tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan shalat sesudah shalat yang tidak ada perbuatan sia-sia di antara keduanya ditulis di kitab 'Illiyyin"(Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud, no 522; Shahih Al-Jami' no 6228).

Sekali lagi, substitusi hanya berlaku pada nilai pahalanya, kewajiban amaliahnya.

 
 
 
www.daqu.or.id