Berita Cabang Pusat
Pesantren Full Beasiswa Hadirkan Generasi Penghafal Al-Qur'an

  2017-01-20 00:00:00  

Nyata untuk Indonesia merupakan tema besar PPPA Daarul Qur'an sepanjang 2017. Tema besar ini merupakan turunan dari Gerakan Membangun Indonesia dengan Al-Qur'an. Sebagai bentuk komitmen menghadirkan lebih banyak penghafal Qur'an dan menjadi target besar tahun ini.

Salah satu program yang diunggulkan ialah Pesantren Takhasus. Pesantren full beasiswa ini digulirkan PPPA Daarul Qur'an untuk melahirkan para penghafal dari seluruh Indonesia.

Keberadaan Pesantren Takhasus sudah berdiri di lima tempat yakni Kemang (Jakarta Selatan), Cikarang, Cinagara, Cimanggis dan Bangun Reksa (Ciledug). Sebanyak 189 santri tersebar di masing-masing daerah tersebut.

Cap "Gratis" tak menyudutkan pesantren takhasus, kualitas serta kuantitas pun sangat diperhatikan. Salah satunya Pesantren Takhasus Kemang, Jakarta Selatan. Bangunan pesantren berdiri kokoh dan indah ditengah kawasan elit ini memiliki 22 santri putra. Tak ayal masyarakat setempat mengira pesatren ini berbayar.

Ustadz Abdul Mugeni pengasuh pesantren, berharap santri-santrinya dapat menjadi contoh remaja saat ini khususnya dan masyarakat di sekitar pesantren. Mengingat di kawasan elite Kemang juga banyak anak-anak usia seumuran santrinya.

Danu Yusuf (13), salah satu santri Pesantren Takhasus ini sangat bersyukur PPPA Daarul Qur'an dapat merealisasikan keinginannya menghafal Qur'an. Sebab hal itu sesuai keinginan sang ibu yang sudah tiada.

"Danu mau hadiahkan hafalan Qur'an ini untuk almarhum ibu," tuturnya.

Keberadaannya selama lima bulan telah berbuah hafalan 22 juz. Paling tinggi di antara teman-temannya yang lain.

"Setelah lulus nanti Danu ingin jadi Ustadz di kampung supaya bisa bermanfaat dan mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari," kata bocah asal Palembang ini.

Lain halnya Pesantren Takhasus Cinagara, Bogor. Ini adalah takhasus pertama dan telah memiliki 63 santri laki-laki, 33 santri telah mengkhatamkan 30 juz dan 30 lainnya sedang menuju 30 juz.

Ustad Dedi (28) alumni Al Azhar Mesir ini mendedikasikan dirinya untuk mengasuh sekaligus mengajar santri takhasus Cinagara. Pria asal Bangkalan, Madura ini dikarunia seorang puteri dari pernikahannya dengan wanita asal Cinagara, yang semakin memudahkannya dikenal dengan lingkungan sekitar.

"Selepas lulus kuliah dari Mesir 2011 saya sempat mengajar di Malaysia selama 6 bulan lalu ke Kalimantan Timur dan akhirnya terpaut di Cinagara," tutur Ustad Dedi.

Santri takhasus Cinagara banyak berasal dari Jawa, Lampung dan Palembang ada pula dari Jailolo, Halmera Barat. Keberagaman budaya tak memecah belah, tujuan yang sama telah menyatukan mereka.Takhasus terbuka untuk anak-anak dari seluruh Indonesia, tentunya melalui proses seleksi karena tempatnya terbatas.

Setiap hari terdengar lantunan ayat-ayat suci, sesekali para pengasuh menyundut api semangat mereka agar tak mudah padam. Santripun dibekali motivasi kehidupan dan pengetahuan umum lainnya.

Anwar Sani Direktur Utama PPPA Daarul Qur'an mengungkapkan lembaganya juga membangun kampung Qur'an di Jailolo, Halmahera Barat dan saat ini ada 2 orang generasi Jailolo yang sedang di kader, setelah mereka siap mereka akan dikembalikan ke daerah asalnya untuk melanjutkan perjuangan.

"Dorong anak-anak kita untuk belajar Al Qur'an di Pesantren dan banyakin doa untuk mereka agar dimudahkan dalam menghafal," seru Sani, sapaan akrab beliau.

Program ini sepenuhnya dibiayai dari dana sedekah para donatur yang telah mengamanahkannya melalui PPPA Daarul Qur'an. Doa terbaik tentunya bagi para santri, kelak mereka akan menjadi calon pemimpin yang memiliki karakter Qur'an, tak lupa bagi para donatur semoga menjadi pahala yang terus mengalir berkah dan berkah.